Scroll untuk baca artikel
Minahasa UtaraNews

Nemesis: Senjata Baru Transparansi Anggaran Negara Berbasis Kecerdasan Buatan

716
×

Nemesis: Senjata Baru Transparansi Anggaran Negara Berbasis Kecerdasan Buatan

Sebarkan artikel ini

Minahasa Utara, jendelasulut com — Sebuah dashboard AI besutan anak bangsa berhasil mengungkap berbagai kejanggalan anggaran pengadaan pemerintah—dari mobil mewah Rp8,5 miliar hingga akuarium Rp100 juta.

Latar Belakang: Keterbukaan di Tengah Gelapnya Data Publik ✅

Di tengah maraknya kasus pengadaan barang dan jasa pemerintah yang dinilai tidak rasional, muncullah sebuah terobosan yang mengubah cara publik mengawasi anggaran negara. Nemesis adalah antarmuka investigasi publik yang merupakan hasil dari “Operasi Diponegoro”—sebuah inisiatif yang diprakarsai oleh Abil Sudarman School of Artificial Intelligence.

Proyek ini digagas oleh Abil Sudarman, seorang IT specialist, data analyst, dan AI researcher yang juga dikenal sebagai Executive Director dengan pengalaman memimpin organisasi beranggotakan lebih dari 4.000 orang. Bersama tim Assai.id, ia membangun sistem ini sejak pertengahan April 2026 sebagai alat pantau canggih untuk mendeteksi kejanggalan dalam anggaran pengadaan barang dan jasa pemerintah.

“Kita bikin khusus AI Sistem namanya Nemesis, sekarang Nemesis sudah bisa diakses di Assai.id/nemesis,” ujar Abil. Bukan tanpa sebab—ada banyak anggaran di tahun 2025 yang tak diketahui oleh masyarakat, seperti pengadaan mobil senilai Rp8,5 miliar dan meja biliar Rp400 juta.

Yang membedakan Nemesis dari platform pengawasan lainnya adalah komitmennya untuk bersifat non-komersial dan open-source. Seluruh metodologi dan kode sumbernya terbuka untuk publik, memungkinkan verifikasi mandiri oleh siapa pun.


Cara Kerja: Lima Tahapan Sistematis Mengolah Jutaan Data ✅

Nemesis bekerja melalui lima tahapan sistematis untuk mengubah data mentah menjadi temuan yang dapat dipertanggungjawabkan:

1. Penarikan Data (Ingestion)

Sistem secara berkala menarik data dari endpoint publik milik LKPP (Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah), khususnya dari SiRUP (Sistem Informasi Rencana Umum Pengadaan) dan INAPROC. Setiap tahun, sistem ini mencatat sekitar 3 juta baris data paket pengadaan dari seluruh Indonesia.

2. Pembersihan Data (Cleansing)

Tim membersihkan dan menyusun ulang teks paket untuk menghindari duplikasi informasi yang tidak perlu. Meskipun data SiRUP kerap tidak lengkap—seperti pagu kosong atau kategori yang tidak tepat—judul paket hampir selalu tersedia, dan inilah yang dimanfaatkan oleh AI.

3. Analisis Kecerdasan Buatan (AI Analysis)

Tahap paling krusial: Large Language Model (LLM) membaca judul paket belanja beserta konteksnya untuk memberikan penilaian awal terhadap potensi ketidakwajaran setiap usulan biaya. Sistem ini mampu memahami konteks instansi dan kewajaran nilai anggaran tersebut.

Proyek ini bahkan telah menganalisis data menggunakan GPT-5.4, dengan dataset mentah yang tersedia untuk diunduh publik dalam format JSONL dan SQL.

4. Pelabelan Anomali (Anomaly Labeling)

Sistem menghitung distribusi label anomali berdasarkan wilayah atau kementerian tertentu. Nemesis memberikan tiga label utama pada setiap paket pengadaan yang mencurigakan:

· Medium: Kesalahan administratif ringan atau ketidakkonsistenan kategori

· High: Indikasi serius seperti dugaan penggelembungan harga anggaran secara signifikan

· Absurd: Kategori paling menarik perhatian—menyoroti pengadaan yang tidak masuk akal

5. Verifikasi Manusia (Human Verification)

Auditor manusia memverifikasi hasil pelabelan tersebut sebelum masuk ke dashboard publik.

Nemesis berfungsi sebagai early warning system—bukan alat pemberi vonis hukum, melainkan peringatan dini bagi auditor dan publik.

Temuan Mengejutkan: Dari Mobil Mewah hingga Akuarium ✅

Sejak diluncurkan, Nemesis telah mengungkap berbagai temuan yang memicu perbincangan hangat di media sosial:

Temuan Nilai Anggaran
Pengadaan mobil mewah (Range Rover) Rp8,5 miliar
Meja biliar Rp400 juta
Akuarium pimpinan + biaya perawatan Rp100 juta + Rp153 juta
Tanaman hias Rp1 miliar

Teknologi di Balik Layar: Open Source untuk Publik ✅

Nemesis dibangun dengan teknologi modern dan sepenuhnya open-source di GitHub. Arsitektur teknisnya meliputi:

· Backend & Frontend: Node.js (JavaScript/TypeScript) dengan Vite sebagai orchestrator
· Database: SQLite

· Deployment: Docker untuk kemudahan instalasi

Tim pengembang berkomitmen untuk merilis tidak hanya kode sumber, tetapi juga fine-tuned model AI yang digunakan, sehingga pemerintah dan pihak lain dapat memanfaatkannya untuk mendeteksi pengadaan aneh sebelum anggaran dieksekusi.

“Sourcer code dan AI modelnya akan kita rilis supaya nantinya pemerintah bisa pakai AI model ini untuk deteksi pengadaan aneh sebelum pengadaan itu dibuat,” ungkap Abil.

Dampak dan Respon Publik ✅

Kehadiran Nemesis mendapat sambutan luas dari berbagai kalangan. Ketua DPRD Kutai Timur, Jimmi, menyatakan dukungannya terhadap inovasi ini:

“Kehadiran inovasi semacam ini sangat kita perlukan untuk mengoreksi berbagai hal yang keluar dari jalur komitmen awal pemerintah dalam melayani masyarakat. Di era sekarang, dinding pembatas informasi sudah runtuh, tidak ada lagi yang bisa ditutup-tutupi.”

Ia menambahkan bahwa struktur APBD maupun APBN sudah selayaknya difokuskan pada sektor-sektor produktif yang memberikan efek nyata terhadap perekonomian dan kesejahteraan masyarakat.

Nemesis juga disebut dapat memudahkan kinerja Menteri Keuangan dalam mengawasi anggaran, karena dashboard ini bisa langsung diakses oleh masyarakat luas.

Disclaimer dan Catatan Penting ✅

Meskipun temuan Nemesis sangat menarik perhatian publik, tim pengembang menyertakan disclaimer bahwa hasil analisis AI bukan merupakan satu-satunya dasar penilaian dan bukan alat pemberi vonis hukum. Nemesis berfungsi sebagai alat bantu peringatan dini yang mendorong transparansi dan mendorong audit lebih lanjut oleh pihak berwenang.

Masa Depan: Transparansi yang Tak Terbendung ✅

Nemesis adalah bukti bahwa teknologi dapat menjadi alat emansipasi publik dalam mengawasi jalannya pemerintahan. Dengan mengolah jutaan data pengadaan yang selama ini tersembunyi di balik tumpukan dokumen, dashboard ini membuka ruang bagi wartawan, akademisi, aktivis, dan masyarakat sipil untuk ikut serta dalam pengawasan anggaran negara.

Seperti yang tertulis dalam manifesto proyek ini:

“Sistem pengadaan Indonesia menghasilkan jutaan baris data setiap tahun—dan sebagian besar pada praktiknya tidak terlihat oleh publik yang seharusnya dilayani. Nemesis hadir untuk mengubah itu.”

Ke depan, transparansi data yang didukung teknologi AI akan semakin mempersempit ruang penyimpangan anggaran. Dan dengan sifatnya yang open-source, Nemesis bukan hanya alat untuk hari ini—tetapi fondasi untuk masa depan pengawasan publik di Indonesia.

Akses dashboard Nemesis di: https://assai.id/nemesis

Penulis: Rukminto Rachman

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *