Lembean, jendelasulut.com — Di balik hiruk-pikuk pembangunan dan derap ekonomi yang kian dinamis, ada denyut kepedulian yang tak pernah padam dari seorang pemimpin. Bupati Minahasa Utara, Dr. Joune James Esau Ganda, kembali menunjukkan bahwa keberhasilan sebuah daerah tidak hanya diukur dari angka pertumbuhan, tetapi juga dari sejauh mana pemerintah hadir untuk menyelesaikan persoalan paling mendasar warganya: kesehatan.
Pada Kamis, 9 Juli 2026, di Balai Desa Lembean, sebuah gerakan besar dicanangkan. Gerakan Bersama Penguatan Desa Siaga TBC bukan sekadar seremoni. Ini adalah perwujudan nyata dari visi kepemimpinan Joune Ganda yang menjadikan kesehatan dan kesejahteraan masyarakat sebagai fondasi pembangunan daerah.
Ancaman TBC: Angka yang Tak Bisa Didiamkan
Di tengah capaian membanggakan itu, ada satu tantangan besar yang tak pernah luput dari perhatian Bupati Joune Ganda: Tuberkulosis (TBC).
Berdasarkan Global TB Report 2024 yang dirilis Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Indonesia masih menempati peringkat kedua dunia dengan jumlah kasus TBC terbanyak setelah India. Diperkirakan terdapat sekitar 1.090.000 kasus dan 125.000 kematian setiap tahunnya—sekitar 14 kematian setiap jam. India menyumbang 26 persen kasus global, sementara Indonesia berada di angka 10 persen.
Kabupaten Minahasa Utara pun tak luput dari ancaman ini. Pada tahun 2025, tercatat sekitar 321 kasus TBC, dan jumlah tersebut masih menunjukkan tren peningkatan. Karena itu, Bupati Joune Ganda dan jajarannya bergerak cepat. Desa Siaga TBC menjadi jawaban strategis—sebuah pendekatan pemberdayaan masyarakat yang menempatkan warga sebagai pelaku utama dalam pencegahan dan pengendalian penyakit di wilayahnya.
—
Desa Lembean: Langkah Nyata, Harapan Baru
Di Balai Desa Lembean, Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan, Robby Parengkuan, S.H., mewakili Bupati Joune Ganda membacakan sambutan yang sarat makna. Hadir pula Kepala Dinas Kesehatan Minahasa Utara, Allan Mingkid, Camat Kauditan, jajaran pemerintah desa, tenaga kesehatan, dan para pemangku kepentingan.
“Gerakan ini merupakan bentuk komitmen bersama agar upaya pencegahan dan pengendalian TBC semakin kuat. Penanganan TBC tidak bisa hanya menjadi tanggung jawab sektor kesehatan, tetapi membutuhkan keterlibatan aktif seluruh elemen masyarakat hingga ke tingkat desa.”
Program Desa Siaga TBC bertujuan untuk memberdayakan masyarakat dan unsur kewilayahan secara aktif dan mandiri dalam mencegah, memeriksa, dan mengobati TBC hingga tuntas. Fokus utamanya adalah mempercepat penemuan dan pelaporan kasus, memastikan pasien minum obat secara teratur hingga sembuh, mencegah penularan, dan menghapus stigma negatif terhadap penderita.
Bupati Joune Ganda melalui sambutannya mengajak seluruh elemen untuk segera mengidentifikasi setiap dugaan kasus TBC, menemukannya lebih awal, dan mengobati hingga tuntas—disingkat TOSS. “Apabila ditemukan warga yang diduga menderita TBC, segera laporkan ke Puskesmas agar mendapatkan pemeriksaan dan pengobatan sesuai prosedur,” tegas Parengkuan.
—
Target Eliminasi 2030: Komitmen Nasional yang Harus Dijaga
Pemerintah Indonesia telah menetapkan target percepatan eliminasi TBC pada tahun 2030, sebagaimana diamanatkan dalam Peraturan Presiden Nomor 67 Tahun 2021 tentang Penanggulangan Tuberkulosis sebagai salah satu program prioritas nasional. Sementara target Indonesia bebas TBC ditetapkan pada tahun 2050.
Keberhasilan eliminasi TBC memerlukan dukungan seluruh lapisan masyarakat. Pemerintah desa, tenaga kesehatan, tokoh masyarakat, hingga keluarga memiliki peran penting dalam membangun kesadaran masyarakat terhadap bahaya TBC sekaligus mendorong upaya pencegahan sejak dini.
“Kami berharap masyarakat berpartisipasi aktif dalam mencegah penyebaran TBC. Mulailah dari diri sendiri dengan menjaga kebersihan, kesehatan, memperhatikan sirkulasi udara rumah, pencahayaan yang baik, serta segera memeriksakan diri apabila mengalami gejala TBC,” ungkap Robby Parengkuan.
—
Strategi dan Tantangan ke Depan
Program Desa Siaga TBC merupakan pendekatan pemberdayaan masyarakat yang menempatkan warga sebagai pelaku utama dalam pencegahan dan pengendalian penyakit di wilayahnya. Melalui semangat gotong royong, masyarakat didorong melakukan deteksi dini, edukasi, investigasi kontak, pendampingan pasien, hingga memastikan pengobatan berjalan sampai selesai.
Selain itu, strategi yang dikembangkan juga mencakup peningkatan cakupan pengobatan (treatment enrollment), pelaksanaan investigasi kontak secara aktif, penghapusan stigma terhadap penderita TBC, peningkatan akses layanan kesehatan, dukungan transportasi pengobatan, serta penguatan sistem pencatatan dan pelaporan kasus.
Meski demikian, pemerintah mengakui masih terdapat berbagai tantangan dalam implementasi Desa Siaga TBC. Oleh sebab itu, diperlukan peningkatan kapasitas, sinergi lintas sektor, serta komitmen seluruh pemangku kepentingan agar pelaksanaan program berjalan secara berkelanjutan dan efektif.
—
Menutup dengan Harapan
Melalui Gerakan Bersama Penguatan Desa Siaga TBC ini, pemerintah ingin meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan komitmen seluruh pemangku kepentingan di tingkat desa dalam mendukung percepatan eliminasi TBC di Kabupaten Minahasa Utara.
Mengakhiri sambutan Bupati Joune Ganda, Asisten II Robby Parengkuan secara resmi mencanangkan Gerakan Bersama Penguatan Desa Siaga TBC di Desa Lembean dengan harapan gerakan tersebut menjadi langkah nyata dalam mempercepat terwujudnya Kabupaten Minahasa Utara yang sehat serta mendukung target Indonesia menuju eliminasi Tuberkulosis pada tahun 2030.
Kegiatan berlangsung dengan penuh semangat dan diharapkan menjadi momentum memperkuat kolaborasi antara pemerintah, tenaga kesehatan, pemerintah desa, serta masyarakat dalam membangun kesadaran kolektif untuk memutus mata rantai penularan TBC melalui deteksi dini, pengobatan yang tuntas, dan penerapan pola hidup bersih dan sehat. (*)