Scroll untuk baca artikel
ManadoNews

Nemesis Assai: Dashboard AI Karya Anak Bangsa yang Bongkar Kejanggalan Anggaran Negara

116
×

Nemesis Assai: Dashboard AI Karya Anak Bangsa yang Bongkar Kejanggalan Anggaran Negara

Sebarkan artikel ini

Manado, jendelasulut.com — Platform non-komersial ini mengolah jutaan data pengadaan pemerintah dan memberi label “Absurd” pada paket yang dinilai tidak masuk akal, seperti akuarium Rp100 juta dengan perawatan Rp153 juta.

Di tengah tuntutan publik akan transparansi penggunaan uang rakyat yang kian menguat, muncullah sebuah terobosan teknologi dari tangan dingin talenta lokal.Abil Sudarman, seorang AI Engineer sekaligus influencer praktisi AI asal Indonesia, bersama tim Assai.id resmi meluncurkan Nemesis Assai—sebuah dashboard berbasis kecerdasan buatan (AI) yang dirancang khusus untuk membedah dan melacak jutaan data pengadaan barang dan jasa pemerintah secara real-time.

Berbeda dengan aplikasi gawai pada umumnya, Nemesis adalah platform berbasis web yang dapat diakses melalui situs Assai.id/nemesis menggunakan browser di komputer maupun ponsel.

🖥️ Cara Mengakses dan Menggunakannya

Mengakses Nemesis terbilang mudah. Publik cukup mengunjungi Assai.id/nemesis melalui peramban web. Begitu masuk, dashboard akan langsung menampilkan daftar paket pengadaan dari berbagai kementerian, lembaga, pemerintah provinsi, hingga pemerintah kota.

Yang menjadi perhatian utama adalah paket-paket pengadaan yang diberi tanda khusus (red flag) karena dinilai tidak wajar. Sistem Nemesis mengelompokkan potensi kejanggalan anggaran ke dalam tiga label risiko:

Label Deskripsi
Medium Indikasi kesalahan administratif ringan atau ketidakkonsistenan kategori
High Indikasi serius seperti dugaan penggelembungan (mark-up) harga secara signifikan
Absurd Kategori khusus untuk anggaran yang dinilai sangat tidak masuk akal secara logika publik maupun urgensi operasional

⚙️ Cara Kerja Nemesis: Mengubah Data Mentah Menjadi Label “Absurd”

Nemesis bukan sekadar basis data biasa. Platform ini mengintegrasikan data mentah dari Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP) dan memprosesnya menggunakan algoritma kecerdasan buatan.Mengingat ada sekitar tiga juta baris paket pengadaan setiap tahunnya, mustahil bagi manusia untuk membedah semuanya secara manual.

Di sinilah peran Large Language Model (LLM) menjadi krusial.Proses pengolahan data dilakukan melalui lima tahapan sistematis:

1. Ekstraksi Data — Menarik data mentah dari endpoint publik SIRUP dan INAPROC milik LKPP.

2. Pembersihan Teks — Menyaring dan membersihkan judul paket, menghapus duplikasi, serta menyelaraskan konteks instansi terkait.

3. Analisis AI — Menggunakan model bahasa untuk membaca judul paket dan memberikan penilaian awal terhadap potensi ketidakwajaran pada setiap usulan biaya.

4. Kategorisasi — Menghitung distribusi label anomali berdasarkan wilayah atau kementerian tertentu.

5. Verifikasi Manusia — Auditor manusia memeriksa hasil pelabelan sebelum masuk ke dashboard publik.

🔍 Temuan yang Menggemparkan Publik

Sejak dioperasikan pada pertengahan April 2026,Nemesis telah mengungkap sejumlah temuan yang memicu diskusi panas di media sosial.Beberapa di antaranya:

· Kendaraan mewah seperti Range Rover senilai Rp8,5 miliar untuk pemerintah provinsi

· Meja biliar seharga Rp400 juta

· Tanaman hias dengan pagu anggaran mencapai Rp1 miliar di lingkungan kerja pemerintah

· Akuarium senilai Rp100 juta dengan biaya pemeliharaan Rp153 juta di area kerja pimpinan kementerian

Bahkan, sistem mendeteksi anggaran produksi webseries di lingkungan lembaga tinggi negara.

🎯 Bukan Vonis, Melainkan Peringatan Dini

Meski temuan-temuan ini mengejutkan publik, perlu ditegaskan bahwa Nemesis berfungsi sebagai alat peringatan dini (early warning system) untuk mendorong pengawasan publik—bukan sebagai vonis hukum.Seluruh hasil deteksi AI tetap melewati proses verifikasi manusia untuk memastikan konteks dan validitas data sebelum ditindaklanjuti.

Proyek ini bersifat non-komersial dan open-source, murni untuk kepentingan masyarakat luas.Seluruh metodologi platform bersifat terbuka agar publik dapat melakukan verifikasi mandiri.

📌 Dukungan dan Respons Publik

Kehadiran Nemesis mendapat respons positif dari berbagai kalangan. Ketua DPRD Kutai Timur, Jimmi, menilai pemanfaatan teknologi AI seperti Nemesis penting untuk mendukung transparansi dan pengawasan penggunaan anggaran pemerintah.

“Teknologi seperti itu penting untuk menertibkan hal-hal yang memang melenceng dari komitmen pemerintah terhadap masyarakat. Zaman sekarang ini enggak ada lagi yang bisa disembunyikan. Semua bisa terbuka.”

Ke depan, transparansi data yang didukung teknologi AI diharapkan akan semakin mempersempit ruang penyimpangan anggaran dan mendorong pengelolaan keuangan negara yang lebih akuntabel.

Penulis: Rukminto R

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *