Jendelasulut com — Menurut data dari aplikasi Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP), pemerintah provinsi Sulawesi Utara di tingkat kabupaten/kota mengalokasikan dana sebesar Rp35.102.175.000 untuk pengadaan laptop Chromebook pada tahun anggaran 2021. Jumlah ini tidak termasuk pengadaan serupa di beberapa kabupaten di Sulawesi Utara, seperti Kabupaten Kepulauan Sangihe, Kabupaten Kepulauan Talaud, Kabupaten Siau Tagulandang Biaro (Sitaro), Kabupaten Bolaang Mongondow, Bolaang Mongondow Selatan (Bolsel), dan Bolaang Mongondow Timur (Boltim). Hal ini mengindikasikan bahwa skala pengadaan Chromebook di wilayah tersebut cukup besar.
Sementara itu, Kejaksaan Agung (Kejagung) terus melakukan pendalaman terhadap kasus dugaan korupsi dalam proyek pengadaan Chromebook senilai Rp9,9 triliun di Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) pada periode 2019-2022. Proyek ambisius yang diinisiasi pada masa jabatan Nadiem Makarim sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) ini bertujuan untuk mempercepat digitalisasi pendidikan di Indonesia. Namun, saat ini proyek tersebut justru menjadi fokus perhatian karena adanya dugaan praktik korupsi yang merugikan negara.
Penetapan Tersangka dan Awal Mula Investigasi
Tim Penyidik Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Khusus (JAM PIDSUS) telah menetapkan NAM, mantan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek) RI periode 2019–2024, sebagai tersangka dalam kasus ini. Penetapan tersangka ini menandai babak baru dalam pengungkapan dugaan korupsi dalam proyek pengadaan program digitalisasi pendidikan nasional.
Investigasi yang dilakukan oleh Kejagung mengungkap indikasi kuat adanya praktik korupsi dalam pengadaan Chromebook, mulai dari penentuan spesifikasi teknis yang terkesan dipaksakan, potensi terjadinya monopoli, hingga harga Chromebook yang jauh lebih tinggi dari harga pasar. Hal ini menimbulkan pertanyaan serius mengenai transparansi, akuntabilitas, dan efektivitas penggunaan anggaran negara dalam proyek digitalisasi sekolah ini.
Akar Masalah: Ambisi Digitalisasi dan Potensi Penyimpangan
Program digitalisasi sekolah yang digagas oleh Nadiem Makarim bertujuan untuk memodernisasi sistem pendidikan di Indonesia dengan menjadikan Chromebook sebagai perangkat utama. Chromebook dipilih karena dianggap lebih ekonomis, ringan, dan terintegrasi dengan layanan Google. Namun, dalam perjalanannya, implementasi program ini justru menuai kontroversi.
Informasi dari antikorupsi.org menyebutkan bahwa penyidik Kejaksaan Agung sedang mengusut dugaan korupsi senilai Rp9,9 triliun yang terjadi dalam rentang waktu 2019-2022. Hasil penyidikan mengindikasikan bahwa spesifikasi pengadaan Chromebook diarahkan secara khusus untuk memenuhi kriteria tertentu, sehingga membatasi pilihan dan berpotensi menguntungkan pihak-pihak tertentu. Selain itu, kajian teknis yang dilakukan diduga dipaksakan untuk membenarkan kebutuhan pendidikan, meskipun hasil uji coba pada tahun 2019 menunjukkan hasil yang kurang memuaskan.
Anggaran yang dialokasikan untuk proyek ini sangat besar, mencapai Rp9,9 triliun, yang terdiri dari dana satuan pendidikan sebesar Rp3,58 triliun dan dana alokasi khusus sebesar Rp6,39 triliun. Besarnya anggaran ini memicu pertanyaan kritis mengenai bagaimana dana tersebut dialokasikan dan apakah telah digunakan secara efisien dan efektif untuk mencapai tujuan digitalisasi pendidikan.
Harga Chromebook yang Janggal dan Dugaan Markup
Salah satu temuan yang paling mencolok dalam investigasi ini adalah harga Chromebook yang dibeli dalam proyek ini jauh lebih tinggi dibandingkan harga pasar untuk spesifikasi yang serupa. Pemerintah membeli Chromebook dengan harga Rp5,9 hingga Rp6,8 juta per unit, padahal harga pasar rata-rata untuk Chromebook dengan spesifikasi yang sama berkisar antara Rp3 hingga 4 juta rupiah. Selisih harga yang signifikan ini menimbulkan dugaan kuat adanya markup harga yang merugikan keuangan negara.
Melansir blog.google, Google Indonesia bekerja sama dengan enam vendor lokal, yaitu Advan, Axioo, Evercoss, SPC, Zyrex, dan TSM, untuk memproduksi Chromebook dengan tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) minimal 40 persen. Pada tahun 2021, harga dan spesifikasi Chromebook yang dirilis oleh vendor-vendor tersebut adalah sebagai berikut:
– Advan Chromebook 116: Layar 11,6 inci HD, CPU Intel Celeron N4020, RAM 4GB DDR4, eMMC 32GB, Harga: Sekitar Rp6,5 juta.
– Axioo Chromebook: Layar 11,6 inci HD, CPU Intel Celeron N4020, RAM 4GB DDR4, eMMC 32GB, Harga: Sekitar Rp6,5 juta.
– Evercoss CB1: Layar 11,6 inci HD, CPU Intel Celeron N4020, RAM 4GB DDR4, eMMC 32GB, Harga: Mencapai Rp6,8 juta.
– SPC Chromebook X1 Mini: Layar 11,6 inci HD, CPU Intel Celeron N4020, RAM 4GB DDR4, eMMC 32GB, Harga: Dipatok Rp6,49 juta.
– Zyrex Chromebook M432-1: Layar 11,6 inci HD, CPU Intel Celeron N4020, RAM 4GB DDR4, eMMC 32GB, Harga: Sekitar Rp5,97 juta.
– Zyrex Chromebook M432-2: Layar 11,6 inci HD, CPU Intel Celeron N4020, RAM 4GB DDR4, eMMC 32GB, Harga: Rp6,45 juta.
3. Monopoli dan Kurangnya Transparansi
Indonesia Corruption Watch (ICW) menilai bahwa kebijakan pengadaan Chromebook ini mempersempit persaingan usaha dan berpotensi menimbulkan monopoli. Selain itu, pengadaan ini tidak tercatat dalam Sistem Informasi Rencana Umum Pengadaan (SiRUP), sehingga publik tidak dapat memantau transparansinya.
Ketergantungan pada internet juga menjadi masalah, mengingat banyak daerah di Indonesia, terutama daerah pedalaman, yang masih memiliki infrastruktur jaringan yang belum memadai. Hal ini menyebabkan Chromebook menjadi kurang efektif di daerah-daerah tersebut.
4. Efektivitas Chromebook yang Dipertanyakan
Meskipun Chromebook memiliki keunggulan dalam hal kecepatan, keringanan, keamanan, dan integrasi dengan layanan cloud, efektivitasnya dalam mendukung pembelajaran di sekolah masih dipertanyakan. Keterbatasan akses internet, kapasitas penyimpanan yang kecil, dan aplikasi yang terbatas dibandingkan laptop Windows menjadi kendala dalam implementasinya.
Dengan harga yang mencapai Rp5,9 hingga Rp6,8 juta per unit, banyak pihak mempertanyakan apakah Chromebook merupakan pilihan yang tepat untuk program digitalisasi sekolah. Sebagai perbandingan, laptop Windows entry-level dengan spesifikasi yang lebih tinggi, seperti ADVAN Workmate dengan prosesor Intel Core i3 1215U, RAM 8GB/256GB, layar 14 inci FHD+, dan sistem operasi Windows 11, dapat dibeli dengan harga sekitar Rp4,5 juta.
*