Scroll untuk baca artikel
Minahasa UtaraNews

Targetkan 18.000 Hektare, Program Hilirisasi Kelapa Sulut Dilaunching di Minahasa Utara

171
×

Targetkan 18.000 Hektare, Program Hilirisasi Kelapa Sulut Dilaunching di Minahasa Utara

Sebarkan artikel ini

MINUT, JENDELASULUT.COM — Di tengah terik matahari pagi yang menyinari hamparan lahan di Desa Matungkas, Kecamatan Dimembe, puluhan cangkul mulai menggali tanah. Senin (2/3/2026) menjadi hari bersejarah bagi petani kelapa di Kabupaten Minahasa Utara. Dengan pencangkulan pertama oleh Wakil Gubernur Sulawesi Utara, Victor Mailangkay, kegiatan penanaman perdana dalam rangka hilirisasi perkebunan kelapa resmi dimulai. Momen ini bukan sekadar seremonial tahunan, melainkan penanda bangkitnya kembali komoditas yang telah lama menjadi denyut nadi ekonomi dan budaya masyarakat Bumi Nyur Melambai.

Acara yang digelar di lahan demplot itu dihadiri oleh Sekretaris Pemerintah Kabupaten Minahasa Utara, Novly Wowiling, serta perwakilan dari Kementerian Pertanian Republik Indonesia. Kehadiran para pejabat ini disambut antusias oleh puluhan petani yang sejak pagi telah berkumpul, membawa bibit kelapa unggul yang akan ditanam secara simbolis.

Dalam sambutannya, Victor Mailangkay tidak bisa menyembunyikan rasa syukurnya. Ia menekankan bahwa kelapa bukan sekadar tanaman ekonomi, melainkan identitas masyarakat Sulawesi Utara. “Berbicara tentang kelapa berarti berbicara tentang nafas hidup kita. Dari daun, buah, batok, hingga akarnya, semua punya nilai. Inilah pohon kehidupan yang sesungguhnya,” ujarnya di hadapan para petani.

Namun, ia juga mengingatkan bahwa kebanggaan masa lalu tidak boleh membuat masyarakat terlena. “Tantangan hari ini nyata. Banyak pohon kelapa kita sudah berusia lanjut, produktivitas menurun drastis, ditambah perubahan iklim yang tak menentu. Jika tidak segera kita rejuvenasi, kita akan kehilangan kejayaan,” tegasnya.

Victor menjelaskan bahwa pada tahun 2026 ini, Kabupaten Minahasa Utara mendapat alokasi anggaran belanja tambahan khusus untuk program penanaman dan peremajaan kelapa. Program ini, katanya, tidak hanya sebatas mengganti pohon tua dengan bibit baru. “Peremajaan harus komprehensif: perbaikan tata kelola, penggunaan bibit unggul bersertifikat, penerapan teknologi budidaya modern, hingga penguatan kelembagaan petani. Kita ingin petani tidak lagi bekerja secara tradisional, tapi menjadi pekebun yang profesional,” paparnya.

Ia pun mengajak para petani yang hadir untuk merawat tanaman ini dengan sungguh-sungguh. “Jangan hanya datang saat ada bantuan bibit, lalu setelah itu ditinggalkan. Ini adalah investasi jangka panjang untuk anak cucu kita,” pesannya.

Senada dengan Victor, Direktur Hilirisasi Hasil Perkebunan Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian, Kuntoro Boga Andri, yang hadir mewakili pemerintah pusat, menyebut Sulawesi Utara sebagai “negeri rayuan, pulau kelapa”. Menurutnya, provinsi ini memiliki tiga komoditas unggulan yang akan dikembangkan secara kawasan: kelapa, kakao, dan pala. “Tahun ini, sekitar 18.000 hektare kelapa di Sulut akan diremajakan dan diperluas. Kami menggunakan varietas lokal yang adaptif dan varietas unggul baru untuk meningkatkan produktivitas,” ungkap Kuntoro.

Namun, Kuntoro menyoroti satu ironi yang masih terjadi. Meskipun Sulawesi Utara dikenal sebagai sentra kelapa, petani belum sepenuhnya menikmati nilai tambah dari industri hilir. “Mayoritas petani masih menjual kelapa dalam bentuk butiran atau paling banter kopra. Padahal, nilai tambah terbesar justru ada pada produk turunannya. Bayangkan, dari nira bisa jadi gula semut, dari batok jadi arang aktif atau kerajinan, dari sabut jadi cocopeat yang laku di pasar ekspor. Ini yang harus kita dorong bersama,” jelasnya.

Mendengar itu, para petani yang hadir tampak antusias. Salah seorang petani kelapa asal Desa Matungkas, Steven Roring (52), mengaku sudah lama menanti program semacam ini. “Pohon kelapa di kebun saya rata-rata sudah berumur 40 tahun. Tinggi dan susah dipanen, buahnya juga makin sedikit. Harapan saya, dengan bibit baru ini, kami bisa panen lebih banyak dan kalau bisa diolah sendiri, bukan cuma jual kelapa bulat,” tuturnya.

Wakil Gubernur Victor menegaskan komitmen Pemerintah Provinsi untuk mendukung pengembangan komoditas unggulan melalui penguatan infrastruktur pertanian, seperti pembangunan irigasi dan jalan usaha tani, serta peningkatan kapasitas petani lewat pelatihan-pelatihan. “Kami ingin pertanian tidak sekadar bertahan, tetapi menjadi motor penggerak ekonomi daerah. Dengan kolaborasi antara pusat, provinsi, kabupaten, dan tentunya petani, saya optimistis kejayaan kelapa Sulawesi Utara akan kembali,” pungkasnya.

Acara penanaman perdana pun ditutup dengan aksi nyata: para pejabat dan petani bersama-sama menanam bibit kelapa di lahan yang telah disiapkan. Harapan baru ditanam bersama bibit itu, bahwa suatu saat nanti, pohon-pohon ini akan tumbuh subur, berbuah lebat, dan membawa kesejahteraan bagi seluruh masyarakat Minahasa Utara, serta menjadi kebanggaan bangsa Indonesia. ~ r2

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *