Scroll untuk baca artikel
Minahasa UtaraNews

Resmi! James F. Sundah, Kreator “Lilin-Lilin Kecil”, Dinobatkan sebagai Maestro Budaya Nusantara oleh Pemkab Minahasa Utara

129
×

Resmi! James F. Sundah, Kreator “Lilin-Lilin Kecil”, Dinobatkan sebagai Maestro Budaya Nusantara oleh Pemkab Minahasa Utara

Sebarkan artikel ini

Minahasa Utara — Dunia musik Indonesia kembali berduka. Sebuah kabar duka menyelimuti insan seni Tanah Air setelah salah satu arsitek melodi terbaik yang pernah dimiliki bangsa ini, James Freddy Sundah, menghembuskan napas terakhirnya di New York, Amerika Serikat, pada Kamis (7/5) waktu setempat. Pria di balik lagu abadi “Lilin-Lilin Kecil” itu tutup usia setelah bertarung melawan kanker ganas yang menggerogoti tubuhnya dalam dua tahun terakhir.

Kepergian James bukan sekadar kehilangan seorang komponis. Ia meninggalkan lubang besar, tidak hanya di dunia tarik suara yang selama ini ia semarakkan dengan karya-karya monumental, tetapi juga dalam pergerakan panjang perlindungan hak kekayaan intelektual musisi Tanah Air. Sosoknya adalah jembatan antara seni tingkat tinggi dan perjuangan nyata demi kesejahteraan para pencipta lagu.

Kisah hidup James dalam dua tahun terakhir adalah potret sesungguhnya tentang ketabahan. Sejak sang dokter mendiagnosisnya mengidap kanker paru-paru, pria kelahiran Manado, 28 Februari 1959 itu tak pernah tinggal diam. Ia menjalani rentetan pengobatan intensif di berbagai fasilitas medis terbaik di Amerika Serikat.

Perubahan gaya hidup paling drastis yang ia lakukan adalah mengubur dalam-dalam kebiasaan lamanya. James, yang dikenal sebagai perokok berat, benar-benar berhenti merokok demi kesembuhan. Satu per satu kebiasaan buruk ia tinggalkan, diganti dengan disiplin tinggi mengikuti setiap protokol pengobatan. Keluarganya menyaksikan bagaimana ia menjalani kemoterapi dengan kepala tegak, sesekali masih tersenyum meski tubuh gemetar menahan rasa.

Namun, takdir memiliki ritme sendiri. Ketika keluarga dan penggemarnya mulai berharap, kabar buruk kembali datang. Sel kanker yang sempat melambat dan menunjukkan respons positif terhadap pengobatan justru berkembang biak dengan agresif. Metastase terjadi. Sel-sel ganas itu menyebar ke organ hati (liver) dan tulang. Tubuh James perlahan menjadi medan pertempuran yang semakin sempit.

Satu hal yang membuat semua orang yang mengenalnya takjub: meski raga kian melemah, denyut kreativitas James tidak pernah berhenti. Bahkan di saat rasa sakit menjadi tamu yang tak pernah diundang setiap malam, jari-jarinya masih saja mencari tuts piano.

Di penghujung hayatnya, tepatnya ketika penyakitnya sudah memasuki stadium lanjut, James masih sempat merajut harmoni. Ia menggubah sebuah lagu spesial untuk sang istri tercinta. Lagu berjudul “Seribu Tahun Cahaya” itu menjadi semacam surat cinta terakhir yang ditulis dalam bahasa melodi. Bukan lagu biasa, karena di dalamnya tertanam seluruh rasa syukur, cinta, dan perpisahan yang ia persiapkan dengan tenang.

Karya yang kemudian dibawakan oleh penyanyi muda berbakat Claudia Emmanuela Santoso ini menjadi bukti abadi bahwa bagi seorang James Freddy Sundah, musik adalah bahasa cinta yang paling jujur. Ia tetap bisa berkata “aku cinta kamu” bahkan ketika dadanya sesak dan napasnya kian pendek. Lagu itu kini menjadi pusaka terindah yang ditinggalkan untuk keluarga tercinta.

Berbicara tentang James Freddy Sundah berarti berbicara tentang sejarah musik Indonesia modern. Daftar musisi yang pernah merasakan sentuhan magis tangan dinginnya adalah deretan bintang paling cemerlang di langit musik Tanah Air.

Ada nama legendaris Chrisye, yang beberapa lagunya diaransemen ulang oleh James dengan sentuhan orkestra yang megah. Ada Ruth Sahanaya, diva yang suaranya seolah menemukan panggung terbaiknya lewat aransemen James. Ada Nicky Astria, dengan energi rock-nya yang ia padukan dengan kekuatan simfoni. Masih puluhan nama lain: Harvey Malaiholo, Vina Panduwinata, hingga kelompok vokal legendaris sepanjang masa.

Namun, James bukan hanya soal tangga nada dan progresi chord. Kemampuan diplomasinya yang mumpuni membawanya ke level yang tak banyak musisi Indonesia capai. Ia berhasil menembus pasar internasional, termasuk berkolaborasi dengan band rock dunia asal Jerman, Scorpions. Nama Indonesia ia bawa ke panggung global dengan kepala tegak.

Ketika banyak musisi hanya sibuk dengan karyanya sendiri, James memilih jalan yang lebih berat. Di Amerika Serikat, tempatnya menetap dalam beberapa tahun terakhir, ia tidak hanya berdiam diri. Ia mendedikasikan sebagian besar energinya untuk membedah seluk-beluk sistem royalti yang rumit.

James menjadi semacam “juru bicara tak resmi” bagi para komponis Indonesia yang seringkali tak mendapatkan haknya secara adil. Ia mempelajari bagaimana sistem ASCAP (American Society of Composers, Authors and Publishers) dan BMI (Broadcast Music, Inc.) bekerja di AS, lalu membandingkannya dengan sistem royalti di Indonesia yang jauh dari kata sempurna.

Ia adalah pejuang di garis depan. Seorang visioner yang memimpikan kesejahteraan bagi para pencipta lagu. Ia ingin memastikan bahwa setiap notasi yang lahir dari keringat dan air mata seniman dihargai secara layak, bahwa setiap kali sebuah lagu diputar di kafe, di radio, atau di panggung konser, kantong penciptanya ikut terisi. Perjuangannya ini, meski belum sepenuhnya membuahkan hasil semasa hidupnya, telah membuka jalan bagi diskusi yang lebih serius tentang hak kekayaan intelektual di Indonesia.

Dedikasi sang maestro pun mendapat tempat istimewa di mata pemerintah daerah. Pemerintah Kabupaten Minahasa Utara, di bawah kepemimpinan Bupati Dr. Joune Ganda, S.E., M.A.P., M.M., M.Si. dan Wakil Bupati Kevin Lotulung, S.H., M.H., secara resmi memberikan penghargaan tertinggi kepada almarhum.

James dinobatkan sebagai “Maestro Budaya Nusantara”, sebuah gelar yang diberikan kepada putra daerah yang telah mengharumkan nama Sulawesi Utara di kancah internasional. Penganugerahan ini diterima dengan haru oleh keluarga James beberapa hari sebelum kepergiannya.

Dalam keterangan resminya, Pemerintah Kabupaten Minahasa Utara menilai James sebagai sosok yang berhasil menyatukan identitas lokal dengan standar musik global. Ia tidak pernah melupakan akar budayanya, namun tetap mampu berbicara dalam bahasa musik yang dipahami dunia. Gelar itu menjadi semacam penghiburan, sekaligus pengakuan bahwa perjuangan seumur hidup James tidak berakhir sia-sia.

Perjalanan Terakhir Menuju Peristirahatan Abadi

Senin (11/5) besok, dunia akan kembali menyaksikan kepergian seorang besar. James Freddy Sundah akan dihantarkan ke tempat peristirahatan terakhirnya di St. John Cemetery, sebuah pemakaman ikonik yang terletak di kawasan Queens, New York.

Bukan sembarang pemakaman. St. John Cemetery dikenal sebagai tempat peristirahatan abadi bagi tokoh-tokoh penting dunia, mulai dari politisi, seniman, hingga ikon budaya. James akan bersemayam di tanah yang sama dengan mereka yang namanya terukir dalam sejarah peradaban. Sebuah tempat yang layak bagi seorang arsitek melodi yang karyanya menggetarkan jutaan jiwa.

Rencananya, upacara pelepasan akan digelar secara tertutup dengan dihadiri keluarga dekat dan sejumlah kolega yang sempat terbang ke New York. Beberapa musisi Indonesia juga direncanakan memberikan penghormatan terakhir secara virtual. Di Indonesia, sejumlah komunitas musik dan pegiat hak cipta berencana menggelar acara “tribute” sebagai bentuk penghormatan.

James F. Sundah mungkin telah pergi. Tubuhnya kini terbaring tenang menunggu saatnya dikembalikan ke buminya. Namun, seperti lagu ciptaannya yang paling fenomenal, ia tetaplah “lilin kecil” yang akan terus berpendar.

Kiranya tepat apa yang ditulis oleh seorang penggemar di media sosial, “Lilin-Lilin Kecil itu sekarang menyala di surga. James tidak pernah mati, ia hanya pindah panggung.”

Lagu-lagu karyanya akan terus berkumandang. Melodi-melodinya akan terus dipelajari oleh generasi muda. Perjuangannya untuk hak kekayaan intelektual akan terus dilanjutkan oleh mereka yang terinspirasi. Dan setiap kali orang Indonesia menyanyikan lagu yang pernah ia ciptakan atau aransemen, di sanalah James hidup kembali.

James Freddy Sundah telah menjadi “lilin kecil” yang menerangi jalan bagi para musisi muda Indonesia untuk terus bermimpi setinggi langit. Ia membuktikan bahwa dari Indonesia, dari tanah yang kadang tak ramah pada senimannya, lahir jiwa-jiwa besar yang mampu mengguncang dunia.

Selamat jalan, Maestro. Melodi-melodimu akan terus bergema di relung hati kami.

James Freddy Sundah lahir di Manado, 28 Februari 1959. Meninggal di New York, 7 Mei 2026. Meninggalkan seorang istri dan tiga orang anak. Karya-karya terkenal: “Lilin-Lilin Kecil”, “Katakanlah”, dan “Seribu Tahun Cahaya”. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *