Likupang, jendelasulut.com — Sukacita membuncah di Desa Kokoleh Satu, Kecamatan Likupang Selatan, Kabupaten Minahasa Utara. Puluhan warga yang selama bertahun-tahun merasakan pahitnya keterbatasan akses kini tersenyum lega. Jembatan Perintis Garuda yang baru diresmikan menjadi jawaban atas perjuangan panjang mereka menyeberangi sungai yang selama ini memisahkan aktivitas sehari-hari.
Bayangkan, setiap hari warga yang tinggal di seberang sungai harus memutar jalan berkilo-kilometer hanya untuk sekadar ke sekolah, berobat, atau membawa hasil kebun ke pasar. Bahkan, tak sedikit yang nekat menyeberang dengan alat seadanya—mempertaruhkan nyawa demi efisiensi waktu. Kisah heroik keseharian itu kini menemui babak baru.
Dari Zaman Belanda Hingga Runtuh Terlantar
Bupati Minahasa Utara, Dr. Joune Ganda, mengungkapkan fakta menarik sekaligus menyedihkan di balik hadirnya jembatan anyar ini. Ternyata, di lokasi yang sama sudah berdiri sebuah jembatan sejak zaman kolonial Belanda. Namun, usianya yang tua dan minimnya perawatan membuat bangunan bersejarah itu tak lagi bisa dimanfaatkan.
“Jembatan ini sudah lama, dari zaman Belanda dibangun, kemudian sudah lama rusak,” ungkap Joune Ganda usai meninjau langsung lokasi pada Rabu (2/9/2026).
Kerusakan parah itu memaksa sekitar 70 hingga 80 kepala keluarga (KK) yang tinggal di seberang sungai untuk memutar haluan. Mereka harus menempuh perjalanan jauh yang menguras waktu dan tenaga, hanya untuk menghindari arus sungai yang deras. Sebagian warga, karena keterbatasan pilihan, masih memilih akses penyeberangan darurat—sebuah keputusan berisiko tinggi yang bisa merenggut nyawa kapan saja.
“Dan tentu ini sangat berbahaya dan sangat menyulitkan masyarakat,” tegas Joune dengan nada prihatin.
Dari Penderitaan ke Euforia: Sambutan Masyarakat Membahana
Ketika proses pembangunan Jembatan Perintis Garuda dimulai, masyarakat tak bisa menyembunyikan kegembiraan. Mereka bukan hanya menyaksikan, tetapi turut merasakan euforia pembangunan. Setiap palu yang dipukul dan setiap besi yang dipasang seakan menjadi simbol lepasnya belenggu keterbatasan yang sekian lama mengikat.
Bagi warga, jembatan ini bukan sekadar struktur beton dan baja. Ia adalah urat nadi kehidupan—jalur penyelamat yang akan mengantar anak-anak mereka ke sekolah dengan aman, membawa ibu-ibu ke pasar tanpa rasa takut, dan membuka akses bagi petani untuk menjual hasil bumi tanpa hambatan.
Kolaborasi TNI-Pemda: Bukti Sinergi untuk Rakyat
Kehadiran Jembatan Perintis Garuda menjadi contoh nyata bahwa kepentingan masyarakat bisa terwujud jika ada kolaborasi yang kuat. Pemerintah daerah bersama jajaran TNI, khususnya Kodim Bitung-Minahasa Utara, bahu-membahu mewujudkan akses yang selama ini diimpikan.
“Ini menunjukkan bahwa kepentingan masyarakat adalah tujuan utama dari pembangunan jembatan ini. Kolaborasi kami tujuannya untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat,” tegas Joune.
Apresiasi tinggi pun disampaikan kepada Pangdam XIII/Merdeka, Mayjen TNI Mirza Agus, dan Danrem 131/Santiago, Brigjen TNI Yuri Elias Mamahi. Kedua pimpinan TNI tersebut tidak hanya hadir untuk seremonial, melainkan untuk menjalankan fungsi kontrol yang krusial.
“Kehadiran ini juga untuk betul-betul memastikan apakah masyarakat senang atau tidak, apakah memang kualitas pekerjaannya baik atau tidak. Jadi ada fungsi kontrol yang luar biasa,” jelas Joune.
Hasil peninjauan menunjukkan bahwa kualitas jembatan sangat baik. Pemerintah Kabupaten Minahasa Utara melalui Dinas PUPR pun turut memberikan dukungan teknis demi memastikan hasil yang optimal.
Jaga Bersama, Manfaat Berkelanjutan
Namun, kebahagiaan harus diiringi tanggung jawab. Joune mengingatkan bahwa jembatan memiliki batas kapasitas: maksimal 1 ton atau setara dengan 25 orang. Untuk itu, ia meminta pemerintah desa segera melakukan sosialisasi agar masyarakat tidak menggunakan jembatan secara berlebihan.
“Jangan bertumpuk di jembatan tersebut. Karena bukan untuk nongkrong, untuk duduk-duduk,” pesannya tegas.
Pemerintah desa akan dibantu aparat keamanan desa untuk mengedukasi dan mengawasi penggunaan jembatan. Bagi Joune, kepatuhan terhadap batas kapasitas bukan sekadar soal keamanan, tetapi juga tentang keberlangsungan infrastruktur itu sendiri.
“Umur ekonomisnya lebih panjang, tentu masyarakat juga yang akan mendapatkan manfaat yang lebih baik,” tandasnya.
Harapan Baru di Ujung Sungai
Jembatan Perintis Garuda kini berdiri kokoh, menjadi saksi perjuangan warga Kokoleh Satu yang tak pernah padam. Setiap langkah kaki yang melintas, setiap kendaraan yang melewati, adalah cerita tentang harapan yang akhirnya terwujud. Bahwa di tengah keterbatasan, kolaborasi dan kegotongroyongan mampu mengubah penderitaan menjadi sukacita.
Kini, warga di seberang sungai tak lagi harus mempertaruhkan nyawa atau membuang waktu berjam-jam. Jembatan ini bukan hanya menyambungkan dua tepian sungai, tetapi juga menyambungkan mimpi mereka akan kehidupan yang lebih layak dan aman. ***