Minut, jendelasulut com — Jalan rusak di Zero Point, Minahasa Utara, yang sempat viral di media sosial, akhirnya mendapatkan perhatian serius. Bukan hanya dari pemerintah, tetapi juga dari inisiatif kolaboratif yang patut diapresiasi. Ketua Badan Anti Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (BAKKIN) Sulawesi Utara, Calvin Limpek, bersama seorang pengusaha muda yang enggan disebutkan namanya (dikenal sebagai Ko J), turun langsung memperbaiki jalan dan membersihkan drainase di lokasi tersebut. Aksi ini menjadi sorotan publik dan menunjukkan bagaimana sinergi antara masyarakat sipil, sektor swasta, dan pemerintah dapat menghasilkan solusi cepat untuk masalah infrastruktur yang mendesak.
Kerusakan jalan di Zero Point bukan tanpa sejarah. Data dari Aplikasi Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LKPP) Republik Indonesia mencatat bahwa proyek rehabilitasi jalan di lokasi ini telah dilakukan pada tahun anggaran 2020 oleh Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara melalui vendor PT. GM dengan anggaran mencapai Rp. 4.966.845.418,68. Namun, kondisi jalan yang kembali rusak parah menimbulkan pertanyaan mengenai kualitas pekerjaan dan efektivitas penggunaan anggaran tersebut. Investigasi lebih lanjut diperlukan untuk mengungkap detail pekerjaan yang telah dilakukan dan penyebab kerusakan yang kembali terjadi.
Langkah cepat Limpek dan Ko J ini dilakukan sebagai bentuk kepedulian terhadap keselamatan dan kenyamanan pengguna jalan. Aksi ini juga menjadi dukungan moril kepada Pemerintah Kabupaten Minahasa Utara yang masih menunggu proses penganggaran dan persetujuan dari Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara untuk melakukan perbaikan secara resmi. “Kerusakan jalan ini bukan hanya soal kenyamanan, tetapi menyangkut keselamatan masyarakat,” tegas Calvin Limpek pada Rabu (14/5/2025). Ia menambahkan bahwa meskipun pemerintah memiliki prosedur dan regulasi yang harus dipatuhi, masyarakat tetap membutuhkan solusi cepat untuk mengatasi masalah yang mengancam keselamatan mereka.
Limpek juga menekankan pentingnya sinergi antara berbagai pihak. Ia melihat potensi besar untuk berkolaborasi dengan pengusaha lokal, terutama pengembang perumahan di sekitar Matungkas, untuk membantu mengatasi berbagai permasalahan infrastruktur di Minahasa Utara. Salah satu faktor penyebab kerusakan jalan, menurut Limpek, adalah perubahan pola aliran air dari Gunung Klabat. Akibat berkurangnya resapan air, air hujan langsung mengalir ke jalan, menyebabkan kerusakan dan banjir. “Ini masalah kita bersama,” ujarnya.
Ko J, pengusaha yang turut serta dalam aksi ini, menyatakan bahwa partisipasinya merupakan bentuk tanggung jawab sosial perusahaan. “Daripada hanya menyalahkan pemerintah, lebih baik kita bantu cari solusi. Kalau bukan kita, siapa lagi?” ungkapnya. Sikap proaktif ini mencerminkan kesadaran akan pentingnya kontribusi sektor swasta dalam pembangunan infrastruktur dan kesejahteraan masyarakat.
Aksi gotong royong ini diharapkan dapat menjadi contoh inspiratif. Perbaikan jalan di Zero Point bukan hanya sekadar perbaikan fisik, tetapi juga simbol perubahan yang dimulai dari kepedulian individu dan kolaborasi lintas sektor. Keberhasilan inisiatif ini menunjukkan bahwa penanganan masalah publik dapat lebih efektif jika semua pihak bekerja sama, saling mendukung, dan berkomitmen untuk menciptakan solusi yang berkelanjutan. Semoga ini menjadi momentum untuk mendorong transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan anggaran infrastruktur di masa mendatang.