Jendelasulut.com — Perwakilan dari Politeknik Negeri Manado, Stevi Kaligis, mengumumkan peluncuran program pengembangan konsep ekowisata berbasis potensi alam dan kearifan lokal di Desa Sarawet, Kecamatan Likupang Timur, Minahasa Utara. Program ini menjadi yang pertama di Sulawesi Utara dan bagian dari program tahun ke-2 yang dikembangkan oleh GAMENDIK DESIGN GUIDE bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, Teknologi, dan Kementerian Kependudukan dan Keluarga Berencana. Pada hari Sabtu, 29 November 2025.
Selain fokus pada pariwisata, program ini juga berupa sistem “berkitar” yang mengintegrasikan pengelolaan sampah plastik dengan produksi barang bernilai ekonomis. Melalui kerjasama dengan mitra POK Darwis (kelompok sadar wisata yang berada di bawah koordinasi Hukum Tua desa Sarawet), Politeknik Negeri Manado memberikan alat pemrosesan sampah plastik tipe ECOBRID dan DP Rotary Blade yang mampu mencincang sampah plastik bahkan yang tebal. Sampah yang diolah kemudian diubah menjadi paving block atau produk lain yang bisa dipasarkan dan juga menunjang fasilitas wisata di desa.
“Ini bukan sekedar penelitian yang cuma sampai prototipe di kampus, tapi memang dirancang untuk berproduksi dan memberikan dampak nyata,” ungkap Stevi Kaligis. Program ini bertujuan memberikan tiga dampak utama: lingkungan (mengurangi sampah plastik yang sulit terurai), sosial (menumbuhkan kesadaran kebersihan), dan ekonomi (menambah penghasilan masyarakat). Selain itu, desa Sarawet diharapkan menjadi pusat edukasi pengelolaan sampah dan spot wisata baru di Minahasa Utara, bahkan berpotensi menjadi sentral pengelolaan sampah untuk wilayah Se-sulawesi Utara dengan replikasi program ke daerah lain seperti Bolmong jika berjalan lancar.
Mengenai keterbatasan anggaran, tim penelitian sedang berkomunikasi dengan Bupati Minahasa Utara untuk meminta dukungan jaringan dan bantuan dana CSR, mengingat keterbatasan alokasi anggaran pemerintah daerah akibat efisiensi. Alat pemrosesan sampah yang diberikan masih menjadi milik kampus, namun dipinjamkan secara tetap di desa dan dikelola bersama oleh POK Darwis dan pemerintah desa.
Di sisi lain, Herry Tongkukut sebagai Hukum Tua Desa Sarawet menyampaikan rasa syukur karena tim penelitian dari politeknik merespons cepat usulan program ini sejak bertemu beberapa bulan lalu. “Kita sangat optimis karena akan ada pendampingan terus-menerus. Tujuan kita tidak cuma membersihkan lingkungan dan melatih kesadaran masyarakat, tapi juga mengembangkan obyek wisata dan memberikan tambahan penghasilan bagi warga,” katanya.
Selain Sarawet, tahun ini ada tiga program serupa yang berjalan di Sulawesi Utara, masing-masing di Minahasa Selatan (berfokus pada cakalang), Bitung, dan program gula aren, namun yang berbasis ekowisata dan pengelolaan sampah hanya ada di Desa Sarawet.