Minut, jendelasulut.com — Pemerintah Kabupaten Minahasa Utara bergerak dari hulu ke hilir menekan inflasi. Setelah menggelar intervensi pasar, jajaran pemerintah daerah kini memperkuat produksi pangan lokal melalui Gerakan KORPRI Menanam di Jalan Ir. Soekarno, samping Rumah Kopi R2K, Selasa (13/10/2026).
Kegiatan dipimpin Sekretaris Daerah Minahasa Utara, Ir. Novly Wowiling, M.Si., bersama para kepala OPD dan camat se-Kabupaten Minahasa Utara. Mereka menanam cabai sebagai langkah lanjutan setelah intervensi pasar pada Sabtu sebelumnya.
“Intervensi harus terus dilakukan, bukan hanya di pasar, tetapi juga pada sektor produksi. Kita berharap upaya ini berdampak nyata terhadap pengendalian inflasi,” ujar Novly.
Menurutnya, angka inflasi memang menunjukkan penurunan, tetapi belum kembali ke kisaran 1 persen. Minahasa Utara pernah mencatat inflasi 0,92 persen, bahkan mendekati nol. Karena itu, pemerintah menggabungkan intervensi pasar dan peningkatan produksi komoditas pangan.
Novly menegaskan Gerakan KORPRI Menanam bukan sekadar seremonial. Budidaya harus berorientasi hasil. Target idealnya sekitar satu kilogram cabai per pohon. Tanaman mati atau terserang hama tidak boleh dibiarkan.
“Kami sudah membangun komitmen agar budidaya ini berorientasi pada keberhasilan. Target produksi harus menjadi ukuran keberhasilan program,” tegasnya.
Program ini dibangun melalui sinergi tiga komponen: KORPRI, TENKAP, dan petani. KORPRI memperoleh manfaat organisasi, petani mendapatkan peningkatan pendapatan, dan masyarakat terbantu karena ketersediaan cabai lebih terjamin. Pemerintah menargetkan 5.000 tanaman cabai melalui pola kemitraan yang adil dan proporsional.
Cabai atau rica menjadi salah satu pemicu tekanan harga. Sebelumnya, harga cabai dilaporkan mencapai Rp110.000 per kilogram. Pemerintah merencanakan intervensi pasar setiap minggu dengan penyediaan lebih dari 50 kilogram cabai untuk membantu menekan harga.
“Pemerintah harus hadir ketika masyarakat menghadapi kenaikan harga. Melalui subsidi harga dan langkah tepat, kita berharap harga cabai kembali normal,” kata Novly.
Ia juga mengingatkan pentingnya antisipasi menjelang periode permintaan tinggi, termasuk Desember 2027 serta Maret dan April yang berdekatan dengan momentum Idulfitri. Jika kenaikan harga tidak diimbangi pasokan, stabilitas harga akan sulit diwujudkan.
Novly mengajak jajaran pemerintah kecamatan mengembangkan program serupa di wilayah masing-masing. Ia juga membuka peluang kolaborasi dengan insan pers untuk menyebarluaskan informasi dan memberi masukan bagi pengembangan Gerakan KORPRI Menanam.
Dalam kesepakatan dengan petani, jika terjadi kegagalan yang menjadi tanggung jawab pelaksana sesuai perjanjian, harus ada pertanggungjawaban, termasuk penggantian. Hal ini agar program berjalan serius dan hasilnya dapat dipertanggungjawabkan.
“Ini bagian dari upaya konkret seluruh ASN di Kabupaten Minahasa Utara untuk menyukseskan program pemerintah dan mengarahkan program pada kebutuhan masyarakat,” tutup Novly.
Dengan menggabungkan intervensi pasar dan penguatan budidaya, Pemkab Minut berharap pasokan cabai lebih stabil, harga terkendali, petani sejahtera, serta masyarakat memperoleh manfaat nyata.