Bolaang Mongondow, jendelasulut.com — Gubernur Sulawesi Utara Mayjen TNI (Purn) Yulius Selvanus, SE, secara resmi membuka Sidang Sinode ke-60 Gereja Masehi Injili di Bolaang Mongondow (GMIBM) yang digelar di Gedung GMIBM Sion Pinogaluman, Kecamatan Lolak, Kabupaten Bolaang Mongondow, Senin (13/7/2026).
Sebelum memasuki rangkaian ibadah dan pembukaan sidang, Gubernur Yulius terlebih dahulu meresmikan Gedung Aula Sion Pinogaluman yang baru rampung dibangun. Peresmian ditandai dengan penandatanganan prasasti dan pengguntingan pita, menjadikan aula tersebut sebagai fasilitas penunjang pelayanan gereja yang representatif. Turut mendampingi Gubernur dalam kegiatan tersebut, Wakil Bupati Bolaang Mongondow Dony Lumenta, Kapolres AKBP Dr. Reza M. Tarigan, anggota DPRD Sulut Dea Lumenta, serta jajaran pengurus GMIBM Pinogaluman.
—
GMIBM: Dari Pekabaran Injil hingga Benteng Peradaban
GMIBM merupakan salah satu gereja Protestan beraliran Calvinis di Indonesia yang bermula dari tanah Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara. Sejarah penginjilan di wilayah ini dimulai sejak tahun 1904, ketika para zending dari Eropa datang dibantu dua orang pribumi, Tumewu di Mariri dan Th. Pangkei di Poopo. Gereja ini secara resmi berdiri dan menjadi anggota Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) pada 25 Mei 1950, dengan Ketua Sinode pertama Pdt. P.M. Kolopita.
Pada tahun 1948, bahkan sebelum sinode resmi terbentuk, Panitia Persekolahan Gereja Maschi Injili Bolaang Mongondow telah dibentuk dengan tujuan memajukan pendidikan dan membangun sekolah-sekolah baru. Jejak pendidikan ini menjadi fondasi awal peran GMIBM yang tidak pernah berhenti di ruang ibadah semata.
—
Gubernur: “Gereja Mitra yang Tak Bisa Digantikan”
Dalam sambutannya di hadapan ratusan peserta sidang, Gubernur Yulius menegaskan posisi GMIBM bukan sekadar lembaga keagamaan, melainkan kekuatan moral sekaligus mitra setara dan strategis pemerintah daerah dalam menjawab tantangan masa depan.
Berbeda dengan pandangan umum yang memisahkan urusan rohani dan pembangunan fisik, Gubernur justru menekankan bahwa kemajuan Sulawesi Utara tidak akan kokoh tanpa fondasi nilai luhur dan peran aktif gereja di tengah masyarakat.
“Kami sadar betul: pelayanan GMIBM tidak berhenti di ruang ibadah. Gereja ini telah membangun sekolah, mencerdaskan anak bangsa, memberdayakan masyarakat pedesaan, merawat kelompok rentan, menjaga kerukunan antar sesama, hingga menjadi benteng persatuan di tengah keberagaman kita,” ujar Yulius.
Gubernur menyampaikan apresiasi mendalam atas perjalanan panjang GMIBM yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari sejarah kemajuan wilayah Bolaang Mongondow dan Sulawesi Utara secara keseluruhan. Kontribusi nyata inilah, kata dia, yang menjadikan GMIBM sebagai mitra yang tidak bisa digantikan oleh lembaga lain.
—
Sidang Sinode: Momentum Menjawab Tantangan Zaman
Gubernur mengajak seluruh elemen gereja untuk melihat Sidang Sinode ke-60 ini bukan sekadar agenda rutin organisasi, melainkan momen krusial menyusun langkah menghadapi tantangan berat. Ia menyebut sejumlah persoalan yang kian terasa di berbagai lapisan masyarakat:
· Ketidakpastian ekonomi global yang berdampak pada daya beli dan kesejahteraan rakyat
· Perubahan iklim yang mengancam sektor pertanian dan kelautan
· Ancaman ketahanan pangan di tengah dinamika produksi dan distribusi
· Krisis moral yang makin terasa di berbagai lapisan masyarakat
· Perkembangan teknologi yang membawa tantangan baru bagi nilai-nilai kemanusiaan
“Di saat seperti ini, suara dan teladan gereja semakin dibutuhkan. Anda adalah penyeimbang, pemberi harapan, dan perekat persaudaraan yang kita andalkan untuk tidak tergelincir ke arah yang salah,” tegasnya.
Ia berharap seluruh keputusan yang dihasilkan dalam sidang ini mampu membawa GMIBM makin tangkas, relevan, dan bermanfaat luas tanpa meninggalkan nilai kebenaran iman.
—
Pemilihan Pemimpin: Hikmat dan Integritas
Menyangkut agenda pemilihan Badan Pekerja Sinode (BPS) periode berikutnya, Gubernur memohon agar proses berjalan penuh hikmat dan kasih.
“Pilihlah pemimpin yang tidak hanya cakap mengurus administrasi, melainkan memiliki integritas tinggi, hati yang rendah, dan jiwa melayani. Kepemimpinan yang seperti inilah yang akan makin memperkuat sinergi kita membangun daerah,” tambahnya.
—
Kolaborasi Nyata Pemerintah dan Gereja
Komitmen Gubernur Yulius terhadap sinergi dengan GMIBM bukan sekadar wacana. Sebelumnya, pada Maret 2026, Gubernur turut menyaksikan penyerahan bantuan mobil hibah dari Bank Indonesia kepada Sinode GMIBM di Kotamobagu. Ketua Sinode GMIBM, Pdt. Dr. Fekky W. Kamasaan, M.Th, menyampaikan bahwa bantuan kendaraan tersebut sangat membantu mobilitas pelayanan yang menjangkau wilayah empat kabupaten dan satu kota.
Gubernur Yulius menegaskan bahwa Pemerintah Provinsi siap melengkapi bantuan tersebut dengan dukungan lain sesuai kebutuhan GMIBM, memperkuat sinergi tiga pihak: pemerintah, Bank Indonesia, dan lembaga keagamaan.
—
Menutup dengan Harapan
Di akhir sambutannya, Gubernur menegaskan kembali keseriusan Pemerintah Provinsi untuk terus berjalan beriringan dengan GMIBM.
“Pembangunan tidak bisa dikerjakan pemerintah sendirian. Mari kita bergandengan tangan erat: pemerintah siapkan kebijakan dan fasilitas, gereja hadirkan nilai dan perubahan nyata di tengah masyarakat. Bersama kita wujudkan Sulawesi Utara yang maju, adil, sejahtera, dan tetap berpegang pada fondasi iman yang kuat,” tutup Yulius.
Sidang Sinode ke-60 GMIBM diharapkan menjadi tonggak baru yang makin mempererat persaudaraan sekaligus memperkuat kolaborasi lintas sektor demi masa depan Bumi Nyiur Melambai. Dalam perjalanan enam dekade pelayanannya, GMIBM telah membuktikan diri bukan hanya sebagai rumah ibadah, melainkan rumah peradaban yang turut mencerdaskan, memberdayakan, dan mempersatukan anak-anak bangsa di Sulawesi Utara.
Feki Sajow