Scroll untuk baca artikel
Minahasa UtaraNews

Hanya Baca Rencana, Bukan Realisasi! jendelasulut.com Soroti Keterbatasan AI Deteksi Pengadaan Aneh Abil Sudarman

137
×

Hanya Baca Rencana, Bukan Realisasi! jendelasulut.com Soroti Keterbatasan AI Deteksi Pengadaan Aneh Abil Sudarman

Sebarkan artikel ini

Minahasa Utara — Seorang influencer dan AI engineer bernama Abil Sudarman baru-baru ini menjadi sorotan publik berkat inovasi teknologi yang digagasnya. Bersama tim Assai, ia menciptakan Nemesis Assai, sebuah dashboard early warning system berbasis kecerdasan buatan (AI) yang dirancang untuk mendeteksi dan memetakan kejanggalan atau potensi anomali dalam anggaran pengadaan barang dan jasa pemerintah di Indonesia. Teknologi yang diklaim sebagai “audit AI” ini bukan bertujuan untuk melawan pemerintah, melainkan menjadi alat bantu untuk mencegah pengadaan yang tidak pantas mencuat ke publik dan berpotensi mencegah pemborosan uang negara.


Siapa Abil Sudarman?

Abil Sudarman adalah seorang konten kreator sekaligus praktisi AI yang aktif menyoroti isu-isu teknis dan kebijakan digital. Nemesis Assai terintegrasi dengan data Sistem Informasi Rencana Umum Pengadaan (SiRUP) milik Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP) yang memuat sekitar tiga juta item pengadaan per tahun. Ide tersebut bermula dari kegelisahannya melihat pemberitaan tentang pengadaan kontroversial serta keinginan untuk memanfaatkan AI guna menciptakan sistem transparansi yang lebih baik.

Bagaimana Cara Kerja Nemesis Assai?

Sistem yang dibangun bersama Asosiasi Riset AI Indonesia ini menggunakan Large Language Model (LLM) untuk menganalisis judul dan nilai setiap paket belanja.

Prosesnya berjalan dalam lima tahap sistematis:

· Mengambil Data sistem secara berkala dari sumber publik LKPP dan menyimpannya.

· Membersihkan Data untuk menghilangkan duplikasi dan menyeragamkan format sebelum analisis.

· Menganalisis dengan AI (Inti), membaca judul paket, mempertimbangkan wajar atau tidaknya nilai pengadaan, lalu mengklasifikasikannya.

· Mengkategorikan & Memetakan hasil untuk melihat konsentrasi anomali.

· Verifikasi Manusia, di mana pakar akan memeriksa hasil berlabel prioritas sebelum ditampilkan ke publik.

Hasil Temuan & Sorotan Publik

Fitur sistem ini adalah pemberian label risiko anomali: Medium (redaksi administratif ringan), High (indikasi serius), dan Absurd (sorotan utama). Beberapa temuan yang dianggap “absurd” dan viral di media sosial antara lain:

· Pemeliharaan akuarium senilai lebih dari Rp135 juta.

· Sewa tanaman hias senilai lebih dari Rp1,1 miliar.

· Ditemukan pula berbagai pengadaan tidak biasa lainnya seperti pembuatan webseries DPR senilai Rp2 miliar, dan HOEGENG AWARD untuk Polri senilai Rp5,2 miliar.

· Anggaran gaji kebersihan Masjid Al Jabbar yang mencapai Rp22 miliar juga menjadi sorotan.

Perdebatan: Rencana vs Realitas

Redaksi jendelasulut.com menyoroti bahwa sistem ini masih sebatas membaca data rencana (RUP), belum data realisasi riil di lapangan. RUP hanyalah tahap perencanaan yang isinya bisa berubah sewaktu-waktu, sehingga data yang dianalisis AI belum tentu menggambarkan realisasi final yang bisa saja berbeda atau bahkan batal. Abil sendiri mengakui bahwa akurasi sistemnya masih perlu dikembangkan lebih lanjut, terutama dengan bantuan komunitas dan pemerintah.

Meskipun memiliki keterbatasan, sistem ini menjadi terobosan penting dalam transparansi fiskal. Untuk mengembangkannya ke level yang lebih akurat, kerja sama dan dukungan berkelanjutan dari berbagai pihak akan menjadi kunci. (Tim js)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *