Scroll untuk baca artikel
Minahasa UtaraNews

Heboh di Kementerian LHK! Presentasi Pemkab Minut Soal Proyek Mantehage-Nain Langsung Curi Perhatian: Ini Dia Model Baru Indonesia Atasi Sampah Kepulauan

821
×

Heboh di Kementerian LHK! Presentasi Pemkab Minut Soal Proyek Mantehage-Nain Langsung Curi Perhatian: Ini Dia Model Baru Indonesia Atasi Sampah Kepulauan

Sebarkan artikel ini

Minut — Pemerintah Kabupaten Minahasa Utara (Minut) kembali menunjukkan komitmen seriusnya dalam mewujudkan pembangunan berkelanjutan. Dalam sebuah presentasi yang digelar secara daring di hadapan Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) Republik Indonesia, Pemkab Minut memaparkan proyek ambisius bertajuk Sustainable Community Development Based on Circular Waste Management in Island Areas of North Minahasa, Indonesia (Pengembangan Masyarakat Berkelanjutan Berbasis Pengelolaan Sampah Sirkular di Wilayah Kepulauan Minahasa Utara).

Presentasi yang berlangsung dalam rapat pembahasan tindak lanjut proyek Official Development Assistance (ODA) ini menjadi sorotan utama para pemangku kepentingan di tingkat pusat. Kepala Bagian Pemerintahan Sekretariat Daerah Kabupaten Minahasa Utara, Sefferson Sumampouw, yang mewakili Sekretaris Daerah, dengan percaya diri memaparkan konsep revolusioner pengelolaan sampah berbasis masyarakat yang akan diimplementasikan di Pulau Mantehage dan Pulau Nain.

Bukan Sekadar Buang Sampah, Tapi Gerakan Ekonomi Sirkular

Yang membuat proyek ini menarik perhatian publik adalah pendekatannya yang holistik. Program tersebut dirancang tidak hanya untuk menyelesaikan persoalan sampah kronis di wilayah kepulauan, tetapi juga diintegrasikan secara cerdas dengan pengembangan ekowisata. Dengan kata lain, sampah yang dikelola dengan baik akan menjadi gerbang bagi pariwisata berkelanjutan di Minahasa Utara.

“Melalui pendekatan ekonomi sirkular, masyarakat tidak lagi sekadar membuang sampah. Mereka akan menjadi pelaku utama dalam proses pengurangan, pemilahan, pengolahan, hingga pemanfaatan kembali sampah yang memiliki nilai ekonomi,” jelas Sefferson dalam paparannya, Kamis (10/6/2026).

Pulau Mantehage dan Nain: Permata yang Tersembunyi di Penyangga Bunaken

Sefferson Sumampouw menjelaskan alasan strategis pemilihan kedua pulau tersebut. Pulau Mantehage dan Pulau Nain bukanlah pulau biasa. Keduanya berada di kawasan penyangga Taman Nasional Bunaken—destinasi kelas dunia yang dikenal dengan keanekaragaman hayati lautnya. Potensi wisata bahari dan ekowisata di kedua pulau ini sangat besar, namun selama ini terkendala oleh pengelolaan lingkungan yang belum optimal.

“Karena posisinya yang sangat strategis, pengelolaan lingkungan yang baik menjadi faktor kunci mati. Ini bukan hanya tentang menjaga daya tarik wisata, tetapi juga tentang meningkatkan kualitas hidup masyarakat pesisir dan kepulauan secara bermartabat,” tegas Sefferson.

Dampak Berganda: Lingkungan Bersih, Ekonomi Berputar, Pariwisata Maju

Proyek ini mendapat sambutan hangat karena menawarkan efek berganda (multiplier effect). Dengan sistem pengelolaan sampah yang terintegrasi, kawasan wisata di Pulau Mantehage dan Pulau Nain diproyeksikan menjadi lebih bersih, sehat, dan tentunya lebih menarik bagi wisatawan domestik maupun mancanegara.

“Program ini tidak hanya berfokus pada aspek lingkungan, tetapi juga mendukung pengembangan ekonomi masyarakat dan sektor pariwisata. Ini akan memperkuat posisi Minahasa Utara sebagai destinasi wisata yang sungguh-sungguh mengedepankan prinsip pembangunan berkelanjutan,” imbuh Sefferson.

Dukungan Penuh dari Seluruh Jajaran Pemkab Minut

Rapat yang difasilitasi oleh Direktorat Pengurangan Sampah dan Pengembangan Ekonomi Sirkular KLH tersebut turut dihadiri oleh jajaran pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Minut, termasuk Kepala Dinas Pariwisata Jein Barantian, Dinas Lingkungan Hidup, Bappeda, Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Perkim), serta Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR).

Dalam kesempatan tersebut, Kepala Dinas Pariwisata Minut, Jein Barantian, menyampaikan dukungan penuh dan tak terbagi. Menurutnya, mengintegrasikan pengelolaan sampah dengan ekowisata adalah langkah yang tidak hanya strategis, tetapi juga genting.

“Keberhasilan pembangunan pariwisata sangat bergantung pada kualitas lingkungan. Kami di Dinas Pariwisata siap berkolaborasi dengan seluruh perangkat daerah, pemerintah pusat, masyarakat, dan mitra pembangunan internasional. Kami optimistis program ini akan memberikan manfaat besar bagi masyarakat Pulau Mantehage dan Pulau Nain, sekaligus memperkuat citra Minahasa Utara sebagai destinasi wisata bahari yang bersih, lestari, dan berkelas dunia,” ujar Jein dengan penuh keyakinan.

Peran Aktif Bupati Joune Ganda di Panggung Global

Publik mencatat, inisiatif kerja sama internasional ini tidak terjadi secara tiba-tiba. Keberhasilan ini tidak terlepas dari peran aktif Bupati Minahasa Utara, Dr. Joune James Esau Ganda, S.E., M.A.P., M.M., M.Si. , dalam berbagai jejaring pemerintahan daerah tingkat global.

Sebagai anggota Executive Bureau United Cities and Local Governments Asia-Pacific (UCLG ASPAC) , Bupati Joune Ganda terus mendorong perluasan kemitraan internasional yang membawa manfaat nyata bagi daerah. Komitmennya telah dibuktikan dengan keberhasilan Minahasa Utara menjadi tuan rumah The First Session of the Executive Bureau Meeting UCLG ASPAC 2024—sebuah ajang yang mempertemukan para pemimpin pemerintah daerah dari seluruh Asia Pasifik.

“Kepercayaan internasional yang diberikan kepada Minahasa Utara semakin memperkuat posisi kita sebagai mitra strategis dalam berbagai program kerja sama global dan pembangunan berkelanjutan,” demikian pernyataan resmi dari jajaran Pemkab.

Hibah dari Korea Selatan: Wujud Diplomasi Daerah yang Konkret

Salah satu “kado” terbesar dari diplomasi yang digencarkan Bupati Joune Ganda adalah penjajakan hibah dari Pemerintah Korea Selatan untuk proyek pengelolaan sampah berbasis masyarakat di Pulau Mantehage dan Pulau Nain.

Proyek ini menjadi bukti nyata bahwa diplomasi daerah mampu menghasilkan manfaat konkret. Mulai dari lingkungan hidup, pengelolaan sampah, mitigasi perubahan iklim, hingga pariwisata berkelanjutan, semua digarap secara serius.

Optimisme Menuju Model Nasional

Dukungan lintas sektor yang ditunjukkan dalam rapat tersebut menjadi bukti kuat bahwa Minahasa Utara tidak main-main. Kolaborasi antara sektor lingkungan hidup, pariwisata, perencanaan pembangunan, infrastruktur, dan pemberdayaan masyarakat diharapkan mampu melahirkan sebuah model percontohan pengelolaan sampah berbasis masyarakat untuk wilayah kepulauan lainnya di Indonesia.

Penutup dari Bupati: Momentum Tonggak Sejarah Baru

Menutup rangkaian pemberitaan ini, Bupati Minahasa Utara, Dr. Joune J. E. Ganda, menyampaikan pernyataan penuh harap. Ia menegaskan bahwa pemerintahannya optimistis kolaborasi dengan Korea Selatan ini akan menjadi tonggak penting dalam mewujudkan kawasan kepulauan yang bersih, berkelanjutan, dan berdaya saing.

“Proyek ini kami harapkan memperoleh dukungan penuh dan pendanaan yang memadai, sehingga mampu mempercepat terwujudnya sistem pengelolaan sampah yang modern, berkelanjutan, dan mendukung pengembangan ekowisata di Pulau Mantehage dan Pulau Nain sebagai bagian dari kawasan pariwisata unggulan Sulawesi Utara. Ini bukan hanya untuk hari ini, tapi untuk generasi mendatang,” tutup Bupati Joune Ganda dengan penuh semangat.

Dengan progres ini, publik kini menanti aksi nyata berikutnya: apakah proyek percontohan ini akan menjadi awal dari revolusi kebersihan di destinasi wisata kepulauan Indonesia? Semua mata tertuju pada Minahasa Utara. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *