Jakarta, jendelasulut.com — Ada kisah luar biasa yang datang dari tengah ganasnya Samudra Pasifik, sebuah narasi tentang keteguhan hidup yang hampir pupus ditelan ombak, namun akhirnya bersinar karena kehadiran negara dan kekuatan doa keluarga. Macbul Budiman (46), seorang nelayan asal Jaga 1, Desa Lansa, Kecamatan Wori, Kabupaten Minahasa Utara, Sulawesi Utara, berhasil melawan maut setelah terombang-ambing sendirian selama 116 hari di lautan lepas.
Pria kelahiran Sanger, 15 Februari 1980, yang akrab disapa Makmur ini memulai petaka pada akhir Februari 2026. Saat itu, ia sedang menjalankan aktivitas memancing di perairan Biak, Papua. Namun, cuaca buruk yang datang tiba-tiba disertai gangguan navigasi pada kapal yang ditumpanginya membuat kompas dan mesin mati total. Kapal kecil itu pun kehilangan kendali dan arah.
Aroma asin laut berganti menjadi aroma ketakutan ketika arus samudra yang sangat kuat membawa kapalnya menjauh dari daratan Biak dan terseret ke timur hingga ke tengah Samudra Pasifik. Selama hampir empat bulan—tepatnya 116 hari—Makmur berjuang melawan kelaparan, kehausan, sengatan matahari, dan keputusasaan yang menghantuinya setiap malam. Hanya mengandalkan sisa perbekalan yang menipis dan air hujan yang ia tampung, ia bertahan hidup di atas kapalnya yang ringkih, terbawa arus hingga ribuan kilometer.
Puncak keajaiban itu tiba pada pertengahan Juni 2026. Kapal Makmur akhirnya terdampar di pelabuhan Republik Nauru, sebuah negara pulau kecil yang terletak di timur laut Australia. Oleh otoritas Kepolisian dan Imigrasi Nauru, ia segera dievakuasi ke Naoero Medical Centre (NMC) di Denigomodun untuk mendapatkan perawatan intensif.
Keberadaan Makmur pertama kali terendus oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Suva di Fiji pada tanggal 15 Juni 2026. Laporan datang dari Dr. Surendra Prabhawa, seorang dokter warga negara Indonesia yang tengah bertugas di rumah sakit Nauru tersebut. Sang dokter segera mengabarkan bahwa ada seorang WNI yang ditemukan dalam kondisi letih namun masih bernyawa.
“Pasien telah dievaluasi secara klinis dan psikologis. Kondisi fisiknya saat ini normal, namun ia mengalami depresi ringan akibat trauma situasi sulit yang dihadapinya,” ungkap Dr. Surendra dalam laporan medisnya yang menjadi pintu awal proses penyelamatan diplomatik.
Menindaklanjuti kabar itu, Duta Besar RI untuk Fiji yang juga merangkap Nauru bergerak cepat. Tidak ada waktu terbuang. Tim KBRI Suva yang dipimpin oleh Minister Counsellor Sandy Darmosumarto segera diterjunkan untuk mengurus dokumen perjalanan darurat (SPLP) dan visa transit bagi Makmur. Proses diplomasi dan birokrasi ini berjalan berkat koordinasi lintas kementerian, termasuk BASARNAS dan BNPB, yang sigap merespons.
Proses pemulangan atau repatriasi darurat pun dilakukan dengan rute estafet yang panjang: dari Pasifik melintasi Australia, lalu menuju Jakarta. Penerbangan komersial yang ditempuh mulai 25 Juni hingga 26 Juni 2026 malam itu berlangsung melelahkan, namun Makmur tidak sendirian. Ia didampingi secara melekat oleh Staf Protokol dan Konsuler KBRI Suva, Samu Ledua Siga Cama, yang memastikan kondisi fisik dan mentalnya tetap stabil di sepanjang perjalanan.
Tepat pada Jumat (26/6/2026) malam, pesawat yang membawa Makmur mendarat di Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Rasa haru langsung menyelimuti. Pendampingan segera diambil alih oleh Pemerintah Kabupaten Minahasa Utara yang didukung penuh oleh Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara. Bupati Minahasa Utara, Joune Ganda, secara langsung hadir mendampingi Makmur di Kantor Perwakilan Provinsi Sulawesi Utara di Jakarta.
Dengan mata berbinar haru, Bupati Joune Ganda menyampaikan rasa syukur yang mendalam. “Beliau adalah warga kita yang mengalami musibah saat sedang bekerja di wilayah Papua dan terdampar sampai di negara Kepulauan Nauru. Atas kasih karunia Tuhan, beliau akhirnya bisa selamat setelah kurang lebih seratus hari lebih berada di tengah lautan,” ujar Joune dengan nada getir.
Lebih lanjut, Joune menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Duta Besar KBRI Suva, jajaran kementerian terkait, serta Gubernur Sulawesi Utara, YSK, yang telah memfasilitasi seluruh proses pemulangan ini hingga berjalan dengan baik. “Ini bukti bahwa negara hadir untuk warganya, di mana pun mereka berada,” tegasnya.
Saat ini, kondisi Makbul Budiman dilaporkan dalam keadaan sehat dan stabil. Rencananya, esok hari (Senin, 29/6/2026), pemerintah Kabupaten Minahasa Utara akan menerbangkan Makmur kembali ke Manado untuk langsung diantarkan ke kampung halamannya di Desa Lansa.
Di sana, sebuah pemandangan mengharukan telah menanti. Christina Budiman, anak kandungnya, bersama kerabat lainnya telah lama menanti kepulangan sang ayah yang sempat hilang tanpa kabar selama berbulan-bulan. Pelukan hangat dan tangis bahagia dipastikan akan mewarnai pertemuan itu, mengakhiri mimpi buruk panjang yang hampir merenggut nyawa sang nelayan.
Kisah Macbul Budiman akan senantiasa diingat sebagai bukti nyata bahwa di tengah besarnya ombak samudra dan jauhnya jarak geografis, harapan tidak pernah padam. Kegigihan seorang anak bangsa bertahan hidup, ditambah dengan gerak cepat perwakilan negara di luar negeri, akhirnya mampu menuntunnya kembali pulang ke pangkuan keluarga tercinta. (*)