Scroll untuk baca artikel
Minahasa UtaraNasionalNews

Kharisma Tonaas Wangko di Balik Ucapan “Minal Aidin Wal Faidzin” untuk Umat Muslim

131
×

Kharisma Tonaas Wangko di Balik Ucapan “Minal Aidin Wal Faidzin” untuk Umat Muslim

Sebarkan artikel ini

MINUT, JENDELASULUT.COM — Menjelang perayaan Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1447 Hijriah yang akan jatuh pada tahun 2026 Masehi, suasana kebersamaan dan toleransi kembali mengemuka di tanah Minahasa. Gabungan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan Organisasi Kemasyarakatan (Ormas) Adat “Paesaan Ne Tua Tua Minaesa” mengambil inisiatir dengan mengeluarkan pernyataan resmi yang ditujukan kepada seluruh umat Muslim di Indonesia, khususnya di wilayah Sulawesi Utara.

Dalam pernyataan yang diterima redaksi, Senin (16/3/2026), Gabungan LSM/Ormas Adat “Paesaan Ne Tua Tua Minaesa” menyampaikan ucapan selamat yang hangat dan penuh makna. Momen suci kemenangan umat Islam setelah sebulan penuh berpuasa ini menjadi momentum bagi elemen masyarakat adat untuk memperkuat tali silaturahmi lintas iman yang selama ini sudah terjalin erat di Bumi Nyiur Melambai.

Seruan “Minal Aidin Wal Faidzin” dari Tokoh Adat

Puncak dari pesan damai tersebut disampaikan langsung oleh pimpinan mereka, Ishak Tambani, yang dalam struktur adat bergelar Tonaas Wangko. Gelar Tonaas Wangko sendiri merupakan posisi tertinggi dalam hierarki adat Minahasa, yang berarti pemimpin besar atau kepala adat yang kharismatik, bijaksana, serta menjadi panutan masyarakat.

Atas nama lembaga yang dipimpinnya, Ishak Tambani mengucapkan:

“SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1 SYAWAL 1447 H / 2026 M, MINAL AIDIN WAL FAIDZIN. MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN.”

Ucapan ini bukan sekadar formalitas tahunan, melainkan sebuah simbol kuat dari komitmen “Paesaan Ne Tua Tua Minaesa” dalam menjaga kerukunan umat beragama. Istilah “Paesaan” sendiri dalam bahasa Tombulu/Minahasa mengandung makna kebersamaan, persatuan, dan ikatan persaudaraan yang kuat, yang menjadi filosofi dasar organisasi dalam berkarya.

Makna di Balik Ucapan

Para pengamat sosial dan budaya menilai, langkah Gabungan LSM dan Ormas Adat yang dipimpin oleh seorang Tonaas Wangko untuk secara terang-terangan menyuarakan ucapan selamat hari raya keagamaan selain keyakinan mereka merupakan bentuk nyata dari praktik falsafah hidup orang Minahasa, yaitu “Torang Samua Basudara” (Kita Semua Bersaudara).

Pernyataan “Mohon Maaf Lahir dan Batin” yang diselipkan juga menegaskan bahwa nilai-nilai adat Minahasa mengajarkan penghapusan segala bentuk kesalahan dan kekhilafan sebagai landasan untuk membangun kehidupan sosial yang lebih harmonis.

Dengan semangat Idul Fitri yang identik dengan kesucian dan pembaruan diri, “Paesaan Ne Tua Tua Minaesa” berharap agar sinergi antara berbagai komponen bangsa, baik dari unsur pemerintah, tokoh agama, hingga pemangku adat, dapat terus diperkuat untuk mewujudkan Indonesia yang damai dan sejahtera.

“Kami dari unsur masyarakat adat merasa terpanggil untuk ikut serta menciptakan suasana yang kondusif. Idul Fitri adalah hari kemenangan saudara-saudara kami umat Islam, dan sudah sepatutnya kami sebagai bagian dari masyarakat turut berbahagia dan menghormatinya,” ujar juru bicara organisasi yang turut mendampingi pernyataan Tonaas Wangko.

Ucapan selamat ini pun telah menyebar luas di berbagai platform media sosial dan grup komunitas di Minahasa, mendapatkan banyak apresiasi dan komentar positif dari berbagai kalangan karena dinilai merepresentasikan wajah toleransi Indonesia yang sesungguhnya. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *