Minahasa Utara – Sebuah momentum bersejarah terjadi di Kabupaten Minahasa Utara (Minut), Sulawesi Utara, pada Senin (27/4/2026). Di halaman kantor Bupati yang dipadati ribuan peserta, semangat pembangunan nasional berbasis Astacita tidak lagi sekadar wacana dari pusat, melainkan mulai diinternalisasi secara masif hingga ke tingkat tapak.
Peringatan Hari Otonomi Daerah ke-30 tahun ini terasa berbeda. Di bawah terik matahari pagi yang menyinari “Bumi Nyiur Melambai”, upacara yang dipimpin langsung oleh Bupati Minahasa Utara, Dr. Joune Ganda, berubah menjadi panggung deklarasi kolektif. Sekitar 1.200 peserta yang terdiri dari aparatur sipil negara (ASN), TNI/Polri, tokoh masyarakat, pelajar, hingga pelaku UMKM, larut dalam atmosfer perubahan.
“Otonomi daerah telah berusia tiga dekade. Kini saatnya kita tidak hanya merayakan, tetapi membuktikan bahwa daerah adalah ujung tombak keberhasilan Astacita. Tidak ada lagi jarak antara kebijakan pusat dan kebutuhan rakyat di Minut,” tegas Dr. Joune Ganda dalam pidato sambutannya yang diiringi sorak dan tepuk tangan.
✅ Dari Seremonial Menuju Aksi Nyata
Bupati Joune Ganda dengan tegas menyatakan bahwa perayaan tahun ini menjadi titik balik integrasi kebijakan lokal dengan delapan agenda prioritas pemerintah pusat (Astacita). Ia tidak ingin peringatan ini hanya berlalu sebagai seremoni tahunan yang usang.
Yang menarik perhatian publik adalah ajakan kontroversial namun membumi dari sang bupati. Joune Ganda secara gamblang meminta seluruh birokrasi dan masyarakat membuang jauh-jauh mentalitas ego sektoral. Menurutnya, selama 30 tahun otonomi daerah berjalan, hambatan terbesar justru datang dari sekat-sekat kepentingan antarinstansi dan kelompok.
“Ego sektoral adalah musuh utama pembangunan. Kita terlalu sibuk dengan urusan ‘kewenangan siapa ini’, sementara rakyat menunggu. Astacita mengajarkan kita semua: kolaborasi adalah kunci, bukan kompetisi yang memecah belah,” ujarnya dengan nada lantang.
✅ Apa Itu Astacita dan Mengapa Penting bagi Minut?
Astacita—singkatan dari Delapan Agenda Prioritas Nasional—merupakan kerangka pembangunan yang dicanangkan pemerintah pusat untuk mempercepat transformasi ekonomi, pemerataan kesejahteraan, dan penguatan fundamental bangsa. Delapan agenda tersebut mencakup: ketahanan pangan, industrialisasi hijau, digitalisasi layanan publik, penguatan SDM, reformasi birokrasi, kemandirian energi, infrastruktur inklusif, serta stabilitas sosial-politik.
Di Minahasa Utara, integrasi Astacita mulai terlihat dari berbagai program konkret. Misalnya, pengembangan kawasan pertanian terpadu di Kecamatan Likupang, digitalisasi pelayanan administrasi kependudukan yang menjangkau desa-desa terpencil, serta percepatan reformasi birokrasi dengan penghapusan jabatan-jabatan non-esensial yang dinilai menghambat efisiensi.
Joune Ganda mencontohkan, keberhasilan otonomi daerah saat ini tidak bisa lagi diukur dari sekadar jumlah anggaran yang diserap. “Ukurannya sederhana: seberapa cepat dan tepat daerah mengejawantahkan visi nasional ke dalam aksi nyata yang dirasakan warganya. Bukan janji. Bukan rapat. Bukan laporan. Tapi hasil di lapangan.”
✅ Respon Positif dari Peserta dan Tokoh Masyarakat
Pernyataan tegas sang bupati mendapat respons hangat dari para peserta. Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Minut, Stevanus Lumintang, yang turut hadir dalam upacara, mengakui bahwa internalisasi Astacita telah mengubah cara kerja pemerintah daerah.
“Kami tidak lagi bekerja sendiri-sendiri. Sekarang setiap perencanaan pembangunan desa harus memetakan delapan agenda Astacita. Ini menuntut kami keluar dari zona nyaman, tapi justru lebih terarah,” ungkapnya.
Sementara itu, perwakilan petani dari Kecamatan Dimembe, Habel Roring, mengapresiasi komitmen bupati. “Kami petani mulai merasakan perubahan. Akses pupuk subsidi lebih lancar, dan ada pendampingan untuk beralih ke pertanian organik yang termuat dalam agenda Astacita. Tidak hanya diomongkan, tapi diwujudkan.”
✅ Tantangan dan Harapan ke Depan
Meski semangat bergelora, Joune Ganda tidak menampik bahwa masih banyak PR yang harus diselesaikan. Tantangan terbesar adalah mengubah pola pikir birokrasi yang sudah terlanjur terbiasa dengan cara-cara lama. “Ini perjalanan panjang. Tapi dengan komitmen bersama, saya yakin Minut bisa menjadi percontohan daerah yang berhasil mengintegrasikan Astacita dalam setiap gerak pembangunan.”
Acara peringatan Hari Otonomi Daerah ke-30 di Minut ditutup dengan penandatanganan komitmen bersama oleh seluruh kepala perangkat daerah dan camat. Naskah komitmen tersebut berisikan tiga poin utama: implementasi Astacita dalam setiap program kerja, pemutakhiran data pembangunan berbasis digital, serta pelibatan aktif masyarakat dalam pengawasan kebijakan.
Matahari yang semakin tinggi di atas Bumi Nyiur Melambai seolah menjadi saksi: Kabupaten Minahasa Utara tidak lagi sekadar mengikuti arus, tetapi berani memimpin perubahan. Dan semua itu dimulai dari halaman kantor bupati—tepat di pagi yang bersejarah pada 27 April 2026. (*)