Minut, jendelasulut.com — Di tengah hiruk-pikuk lebih dari 3.000 pemimpin lokal dan regional yang berkumpul di Istana Seni dan Budaya, kawasan Malabata, Tangier, Maroko, sebuah nama dari ujung utara Pulau Sulawesi mencuri perhatian. Bukan karena kemewahan rombongan, melainkan karena narasi besar yang dibawanya: perdamaian.
Ajang bergengsi Kongres Dunia UCLG (United Cities and Local Governments) ke-8 yang berlangsung pada 22–25 Juni 2026 ini bukanlah pertemuan biasa. Ini adalah forum demokrasi terbesar bagi pemerintah daerah sedunia, yang diadakan tiga tahun sekali di bawah naungan langsung Raja Maroko. Forum ini menjadi panggung bagi para pemimpin kota dan kabupaten untuk membahas masa depan pelayanan publik, pembangunan berkelanjutan, penguatan tata kelola, hingga pencegahan konflik.
Di sanalah Dr. Joune Ganda, Bupati Minahasa Utara, tampil bukan sebagai peserta biasa, melainkan sebagai salah satu dari lima finalis terbaik dunia untuk UCLG Peace Prize 2026. Pencapaian ini bukan sekadar kebanggaan, tetapi sebuah loncatan logis yang menempatkan Minahasa Utara di peta dunia.
Jalur Istimewa Menuju Panggung Dunia
Logika di balik kehadiran Dr. Joune Ganda sangat jelas: ia memiliki “tiket masuk” istimewa. Kabupaten Minahasa Utara berhasil menembus posisi lima besar finalis dari sekitar 80 pemerintah daerah di seluruh dunia yang mendaftar.
Lebih membanggakan lagi, Minahasa Utara adalah satu-satunya perwakilan dari Indonesia sekaligus kawasan Asia Pasifik yang mencapai babak final ini. Empat finalis lainnya berasal dari Kenya, Ekuador, Brasil, dan Sudan Selatan—sebuah persaingan ketat yang mengukur dampak program, inovasi, keberlanjutan, serta kontribusi nyata terhadap terciptanya kehidupan masyarakat yang damai dan inklusif.
Membawa Narasi Perdamaian Minahasa Utara
Pada sesi presentasi final bertema Enhancing Peace in Our Communities: Stories from the UCLG Peace Prize 2026 Finalists, Dr. Joune Ganda memaparkan strategi nyata Minahasa Utara dalam menjaga kerukunan. Di hadapan para pemimpin dunia, ia mengangkat model pencegahan konflik antarumat beragama melalui tata kelola pemerintahan yang inklusif.
“Keberagaman adalah kekuatan yang harus dirawat bersama. Pemerintah daerah memiliki tanggung jawab untuk menghadirkan ruang dialog, memperkuat toleransi, dan memastikan seluruh elemen masyarakat merasa menjadi bagian dari pembangunan,” ujar Joune Ganda di hadapan dewan juri dan peserta kongres.
Yang membuat momen ini semakin simbolis, Joune Ganda tampil tepat setelah Wali Kota Ramallah, Palestina—dua daerah dengan dua realitas berbeda, tetapi sama-sama membawa pesan perdamaian. Ia datang membawa pesan yang berbeda: perdamaian tidak lahir setelah konflik terjadi, tetapi dibangun jauh sebelum krisis muncul.
Dampak Strategis bagi Minahasa Utara
Partisipasi ini bukan sekadar seremoni, melainkan memiliki tujuan strategis yang jelas. Stabilitas dan toleransi dipromosikan sebagai fondasi untuk menarik investasi, terutama untuk mengembangkan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Likupang. Dengan bersaing melawan daerah-daerah dari berbagai negara, prestasi ini menempatkan Minahasa Utara pada peta dunia sebagai contoh tata kelola yang inklusif.
Apabila berhasil meraih penghargaan tertinggi, pemenang UCLG Peace Prize 2026 tidak hanya memperoleh pengakuan internasional, tetapi juga dukungan pendanaan dan pendampingan untuk memperluas implementasi program perdamaian yang telah terbukti berhasil.
Kesimpulan
Dr. Joune Ganda hadir di Tangier bukan sebagai peserta biasa, tetapi sebagai finalis berprestasi dan pembicara kunci yang mempromosikan keberhasilan daerahnya di forum paling strategis bagi pemerintah lokal sedunia. Di tengah berbagai tantangan global yang masih dibayangi konflik dan polarisasi sosial, langkah yang ditunjukkan Minahasa Utara menjadi pesan kuat bahwa perdamaian dapat dibangun dari daerah, dimulai dari komunitas—dan kemudian menginspirasi dunia.
Penulis: Rukminto Rachman