Scroll untuk baca artikel
Minahasa UtaraNews

Minahasa Utara Masuk 5 Besar Dunia: Jurus Damai Bupati Joune Ganda Tembus Final UCLG Peace Prize 2026, Bukti Toleransi Jadi Magnet Investasi Global

227
×

Minahasa Utara Masuk 5 Besar Dunia: Jurus Damai Bupati Joune Ganda Tembus Final UCLG Peace Prize 2026, Bukti Toleransi Jadi Magnet Investasi Global

Sebarkan artikel ini

Minahasa Utara, Sorotan Publik — Sebuah kabar membanggakan sekaligus mengejutkan datang dari ujung utara Sulawesi. Di tengah riuh rendah dinamika politik dan ekonomi global yang kerap diwarnai ketegangan, Kabupaten Minahasa Utara (Minut) justru muncul sebagai simbol perdamaian dunia. Daerah yang dikenal dengan semboyan “Bumi Tumatenden” ini berhasil mencatat sejarah gemilang dengan menembus posisi lima besar finalis dalam ajang penghargaan paling bergengsi bagi pemerintah daerah sedunia, United Cities and Local Governments (UCLG) Peace Prize 2026.

Prestasi yang diumumkan baru-baru ini sontak menggeser perhatian publik nasional. Bagaimana tidak, kabupaten yang terletak di Provinsi Sulawesi Utara ini harus melewati proses kurasi super ketat dari dewan juri internasional. Minut tak hanya bersaing, tetapi berhasil menyisihkan lebih dari 80 pemerintah daerah dari seluruh penjuru dunia yang juga mengajukan program-program unggulan perdamaian mereka. Proses penjurian yang objektif itu kini menempatkan Minut sejajar dengan kandidat elite global lainnya, sebuah posisi yang bahkan belum tentu bisa dicapai oleh kota-kota besar metropolitan.

Puncak dari pencapaian ini adalah undangan resmi yang dilayangkan pihak UCLG kepada Bupati Minahasa Utara, Joune Ganda. Ia dijadwalkan akan bertolak ke Kota Tangier, Maroko, untuk menghadiri UCLG Congress yang berlangsung pada 22 hingga 25 Juni 2026 mendatang. Di forum para pemimpin kota sedunia itu, Bupati Joune akan mempresentasikan secara langsung rahasia sukses Minut dalam menciptakan harmoni di tengah kemajemukan.

“Pihak UCLG mengundang kami secara resmi sekaligus menanggung seluruh biaya akomodasi selama di Maroko. Ini adalah kehormatan luar biasa. Kesempatan ini akan kami gunakan untuk memaparkan potret nyata kerukunan dan harmonisasi kehidupan umat beragama di Minahasa Utara di hadapan dunia,” ujar Joune Ganda dengan penuh antusias saat dikonfirmasi awak media, Jumat (22/5/2026).

Di balik keberhasilan menembus jajaran elite global ini, tersimpan filosofi kepemimpinan yang matang. Joune Ganda, pemimpin yang juga berlatar belakang akademisi dan pengusaha sukses itu, menegaskan bahwa pilar utama yang mengantarkan Minut adalah komitmen kuat dalam merawat toleransi. Lebih dari sekadar jargon politik, stabilitas sosial yang kondusif diakui oleh dewan juri internasional sebagai fondasi paling krusial bagi keberlanjutan pembangunan.

“Kami ingin menunjukkan di forum internasional bahwa Minahasa Utara merupakan daerah yang aman, damai, dan sangat menghargai pluralisme. Ini bukan sekadar kebanggaan sosial, tetapi sudah kami kalkulasi sebagai modal strategis untuk menjaring kepercayaan dan investasi asing,” jelas Joune, membeberkan visi besarnya.

Pernyataan Bupati tersebut bukanlah bualan. Dalam paparannya kepada publik, ia merinci bagaimana paradigma investor global telah bergeser secara fundamental. Jika dulu daya tarik suatu wilayah diukur dari kelimpahan sumber daya alam atau letak geografis semata, kini parameter utamanya adalah social stability index. Para pemilik modal dan pelaku usaha multinasional, menurut Joune, sangat menghindari wilayah rawan konflik, diskriminasi, dan ketidakpastian kebijakan. Di sinilah Minut menawarkan garansi mahal yang tak bisa dibeli: perdamaian.

“Para CEO global mencari safe haven untuk bisnis mereka. Mereka membutuhkan kepastian bahwa pabrik atau cabang mereka tidak akan dibakar massa, bebas dari isu suku dan agama, serta memiliki arah pembangunan yang jelas. Keamanan dan toleransi tinggi yang kami miliki adalah jawaban atas kebutuhan investasi abad ke-21 ini,” pungkas Joune Ganda dengan optimisme tinggi.

Kesuksesan ini tidak hanya mengharumkan nama Indonesia di mata dunia, tetapi juga membuka gerbang ekonomi baru. Lompatan besar Minut di kancah internasional diproyeksikan menjadi momentum kebangkitan ekonomi daerah. Publik berharap, prestasi sebagai finalis UCLG Peace Prize ini mampu menjadi magnet masif bagi masuknya investasi asing berkelanjutan. Harapannya jelas, pertumbuhan ekonomi yang inklusif itu akan berdampak langsung pada pembukaan lapangan kerja baru dan peningkatan kesejahteraan masyarakat lokal.

Kini, mata publik Indonesia tertuju pada langkah Bupati Joune Ganda di Maroko bulan depan. Akankah ‘Jurus Damai’ khas Bumi Tumatenden mampu merebut hati dewan juri dunia sekaligus membawa pulang piala perdamaian untuk Indonesia? Publik menanti dengan harapan membuncah. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *