Scroll untuk baca artikel
Minahasa UtaraNews

Likupang Tourism Festival 2026 Resmi Dibuka: Perpaduan Budaya, Alam, dan Semangat Generasi Muda di Pantai Paal

1511
×

Likupang Tourism Festival 2026 Resmi Dibuka: Perpaduan Budaya, Alam, dan Semangat Generasi Muda di Pantai Paal

Sebarkan artikel ini

Likupang, jendelasulut.com — Deburan ombak yang menghantam pasir putih berpadu dengan alunan merdu musik kolintang dan riuh rendah suara pengunjung yang memadati kawasan Pantai Paal, Minggu pagi (21/8/2026). Suasana itu menandai dimulainya Likupang Tourism Festival (LTF) 2026, agenda tahunan yang dinanti-nanti oleh masyarakat Minahasa Utara dan wisatawan dari berbagai daerah.

Festival yang berlangsung selama tiga hari, 21 hingga 23 Agustus 2026 ini, bukan sekadar ajang liburan akhir pekan biasa. Bagi para pengunjung yang hadir, LTF 2026 adalah pengalaman multisensori—di mana telinga dimanjakan oleh alunan musik tradisional, mata dimanjakan oleh hamparan laut biru dan kostum-kostum warna-warni, serta hati terhangat oleh sambutan ramah masyarakat setempat.

Sejak pagi hari, ribuan pasang mata telah tertuju pada panggung utama yang berdiri megah di tepi pantai. Deretan kursi yang disusun rapi di atas pasir putih perlahan terisi oleh para tamu undangan, tokoh masyarakat, dan wisatawan yang datang dari berbagai penjuru. Para pedagang kaki lima mulai sibuk menyiapkan dagangan mereka, aroma ikan bakar yang menggoda mulai tercium berbaur dengan semilir angin laut yang sejuk. Anak-anak berlarian riang di sepanjang bibir pantai, sesekali berhenti untuk mengagumi dekorasi warna-warni yang menghiasi area festival.

“Pengalaman yang Tak Terlupakan”

Dalam sambutannya di atas panggung utama yang berdiri megah di tepi pantai, Bupati Minahasa Utara, Dr. Joune Ganda, dengan penuh semangat menyapa ribuan hadirin yang memadati lokasi acara. Udara pantai yang sejuk berpadu dengan sinar matahari pagi yang hangat menciptakan suasana sempurna untuk memulai festival.

Dengan balutan kemeja batik khas Minahasa dan peci hitam di kepalanya, sang bupati berdiri tegap di hadapan ribuan pasang mata yang memandang penuh antusias. Ia mengawali sambutannya dengan sapaan khas daerah yang langsung disambut tepuk tangan meriah dari para hadirin.

“Pengalaman-pengalaman unik, pengalaman-pengalaman yang sangat berkesan mereka dapatkan di Kabupaten Minahasa Utara, khususnya di wilayah Likupang,” ujar Joune dengan tegas, suaranya menggema melalui pengeras suara yang tersebar di sepanjang pantai.

Ia melanjutkan dengan narasi yang menyentuh hati para pendengar. Menurutnya, Likupang bukan sekadar destinasi wisata dengan pemandangan pantai yang indah. Lebih dari itu, Likupang adalah tempat di mana kenangan tercipta dan cerita-cerita indah lahir. Setiap sudut wilayah ini menyimpan cerita tersendiri—dari butiran pasir pantai yang lembut di bawah telapak kaki, pohon kelapa yang melambai tertiup angin, hingga senyum tulus warga lokal yang selalu menyambut setiap tamu dengan keramahan khas Minahasa.

“Ketika wisatawan datang ke Likupang, mereka tidak hanya melihat keindahan alam. Mereka merasakan kehangatan, mereka merasakan keramahan, mereka merasakan kedamaian. Inilah yang membuat Likupang berbeda dari destinasi wisata lainnya di Indonesia,” tambahnya dengan penuh keyakinan.

Bupati Joune juga menceritakan pengalaman pribadinya ketika menerima kunjungan para tamu dari mancanegara. Banyak di antara mereka yang mengaku terkesima bukan hanya oleh panorama alam Likupang yang memukau, tetapi juga oleh sambutan hangat masyarakat setempat. “Mereka bilang, ‘Pak Bupati, di sinilah kami merasakan Indonesia yang sebenarnya. Ramah, indah, dan penuh kedamaian.’ Itu adalah kebanggaan terbesar bagi kami,” kenangnya.

Komitmen Berkelanjutan: Festival Tak Berhenti di Panggung

Lebih dari sekadar seremoni pembukaan yang meriah, Bupati Joune menegaskan bahwa Pemerintah Kabupaten Minahasa Utara berkomitmen penuh untuk menjaga keberlanjutan LTF sebagai agenda tahunan yang terus berkembang. Namun, ia mengingatkan bahwa esensi festival tidak berhenti ketika panggung dan tenda dibongkar.

“Jadi bukan hanya selesai pada saat kegiatan acara ini, tetapi terus-menerus kita menjadikan efek domino dari kegiatan Likupang Tourism Festival ini memberikan dampak multiplier effect-nya terus-menerus,” jelasnya di hadapan awak media dan para tamu undangan yang menyimak dengan saksama.

Dampak ekonomi yang ditimbulkan—mulai dari meningkatnya okupansi hotel dan penginapan di sekitar Likupang, larisnya produk-produk UMKM lokal, hingga terbukanya lapangan kerja baru bagi masyarakat setempat—harus terus bergerak bahkan setelah festival usai. Promosi yang dihasilkan dari gelaran ini, menurut Joune, adalah investasi jangka panjang bagi pariwisata Minahasa Utara.

“Kami tidak ingin festival ini hanya menjadi perayaan tahunan yang kemudian dilupakan. Kami ingin festival ini menjadi gerbang bagi pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Kami ingin para pelaku UMKM merasakan manfaatnya, kami ingin para pemuda mendapatkan lapangan kerja, kami ingin Likupang dikenal dunia,” tegasnya.

Likupang sendiri telah ditetapkan sebagai salah satu Destinasi Pariwisata Super Prioritas (DPSP) nasional melalui Peraturan Pemerintah. Status ini menjadikan Likupang sebagai episentrum perubahan ekonomi di kawasan Indonesia Timur, sekaligus mendapat perhatian khusus dari pemerintah pusat untuk mengembangkan potensi pariwisata di daerah ini. Dengan dukungan penuh dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, berbagai program pengembangan infrastruktur dan peningkatan kualitas sumber daya manusia terus digalakkan di wilayah ini.

Sejarah Panjang dan Pengakuan Internasional

Likupang Tourism Festival bukanlah acara dadakan yang lahir dalam semalam. Festival ini telah menjadi agenda rutin Pemerintah Kabupaten Minahasa Utara selama enam hingga tujuh tahun terakhir, dan setiap tahunnya terus berkembang menjadi lebih meriah dan lebih bermakna. Dukungan penuh datang dari Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara dan Kementerian Pariwisata, yang melihat Likupang sebagai salah satu ikon pariwisata nasional yang patut dibanggakan.

Bahkan, LTF pernah dikolaborasikan dengan kegiatan internasional United Cities and Local Government Asia Pacific (UCLG ASPAC). Kolaborasi ini membawa Likupang melambung hingga ke kancah internasional, membuat nama daerah ini dikenal oleh para kepala daerah dan pejabat dari berbagai negara di kawasan Asia Pasifik.

Bupati Joune mengenang momen ketika beberapa kepala daerah dari luar negeri yang pernah berkunjung ke Minahasa Utara masih mengingat pesona Likupang hingga saat ini. Dalam berbagai pertemuan internasional yang dihadirinya, para pejabat asing itu kerap menanyakan kabar Likupang dan mengungkapkan kerinduan mereka untuk kembali berkunjung.

“Mereka menceritakan betapa indahnya pantai kita, keramah-tamahan masyarakat kita. Keramah-tamahan masyarakat itu menjadi top of mind, membekas di dalam hati mereka. Bahkan sampai sekarang, mereka masih ingat betul pengalaman mereka di Likupang,” kenang Joune dengan penuh kebanggaan, matanya berbinar-binar.

Ia menambahkan, para tamu asing itu bahkan sempat mengelilingi wisata mangrove di Kabupaten Minahasa Utara dan menyebutnya sebagai pengalaman unik yang tidak mereka dapatkan di tempat lain di belahan dunia mana pun. Hutan mangrove yang hijau dengan ekosistem yang terjaga, serta masyarakat yang ramah dan selalu tersenyum menjadi daya tarik tersendiri yang sulit dilupakan.

“Ada seorang tamu dari Jepang yang bilang kepada saya, ‘Pak Bupati, saya sudah berkunjung ke banyak pantai di dunia, tapi belum pernah merasakan keramahan seperti di Likupang. Orang-orang di sini benar-benar tulus menyambut kami.’ Itu adalah pujian yang sangat berharga bagi kami,” cerita Joune.

Semarak Acara untuk Segala Usia

Ketua Panitia LTF 2026, Ray Dondokambey, dengan antusias memaparkan bahwa festival tahun ini menghadirkan beragam atraksi yang dirancang untuk memanjakan pengunjung dari berbagai kalangan dan usia. “Kami ingin semua orang merasa di rumah di sini. Anak-anak, remaja, orang tua, semua bisa menikmati Likupang dengan cara mereka masing-masing,” ujarnya.

Panggung Budaya Tonsea menjadi salah satu daya tarik utama yang menyita perhatian pengunjung. Di panggung ini, pengunjung dapat menyaksikan tarian tradisional yang anggun dengan gerakan-gerakan yang sarat makna, alunan musik kolintang yang mendayu dan menenangkan jiwa, hingga kemegahan masamper—pertunjukan seni khas Minahasa yang melibatkan nyanyian dan tepukan ritmis secara bersamaan, menciptakan harmoni yang luar biasa. Setiap gerakan tari dan setiap not musik yang dimainkan seakan membawa penonton menyelami kedalaman budaya Minahasa Utara yang kaya akan nilai-nilai luhur.

Jadwal Acara yang Padat dan Meriah

Hari pertama festival, Jumat (21/8), dibuka dengan performance tarian tradisional yang enerjik dari sanggar-sanggar tari lokal, diikuti oleh penampilan band-band lokal yang mengalunkan lagu-lagu riang dengan irama yang membuat pengunjung ikut bergoyang. Kolintang turut memeriahkan suasana dengan alunan melodinya yang khas, menciptakan harmoni yang menyatu dengan deburan ombak Pantai Paal. Parade kostum bahari menampilkan peserta dengan busana bertema laut yang penuh warna dan kreatif, sementara tarian kolosal yang melibatkan puluhan penari dengan kostum serba warna-warni memukau ribuan pasang mata yang menyaksikan dari tepi pantai.

Penulis: Rukminto R

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *