Scroll untuk baca artikel
Minahasa UtaraNews

Bupati JG Lobi Rp25 M, Kampung Nelayan Minahasa Utara Mulai Berjalan

6355
×

Bupati JG Lobi Rp25 M, Kampung Nelayan Minahasa Utara Mulai Berjalan

Sebarkan artikel ini

Minut, jendelasulut.com — Kabar gembira datang dari Kabupaten Minahasa Utara (Minut). Proyek strategis “Kampung Nelayan” senilai kurang lebih Rp25 miliar yang merupakan hasil lobi Bupati DR. Joune J. E. Ganda, SE, MAP, MM, M.Si, dipastikan sudah mulai berjalan. Proyek ambisius ini tidak hanya berdiri sendiri, melainkan akan diintegrasikan dengan sektor pariwisata untuk menciptakan roda ekonomi baru bagi masyarakat pesisir.

Komitmen Bupati yang akrab disapa JG itu dalam meningkatkan kesejahteraan nelayan memang tidak perlu diragukan lagi. Setelah berbagai program sebelumnya dirasakan langsung manfaatnya, kini pria yang juga menjabat sebagai Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Sulawesi Utara ini kembali membuktikan keseriusannya melalui proyek yang menyentuh langsung infrastruktur dasar nelayan.

Kepala Dinas Kelautan Minut, DR. Jack Y. R. Paruntu, SE, M.Pd, mengungkapkan rasa syukur atas lolosnya proyek ini. Menurutnya, keberhasilan ini adalah buah dari kerja keras dan lobi gigih orang nomor satu di Minut tersebut.

“Puji Tuhan, buah kerja keras Pak Bupati (Joune J. E. Ganda), sehingga kita (Kabupaten Minut) boleh menerima proyek Kampung Nelayan yang terpusat di lima desa yakni; Kema III, Bulutui, Gangga II, Kampung Ambong serta Kahuku,” kata Jack Paruntu, Senin (5/10/2026).

Infrastruktur Vital untuk Nelayan

Proyek yang tersebar di tiga kecamatan—Kema, Likupang Timur, dan Likupang Barat—ini bukan sekadar pembangunan fisik biasa. Jack menjelaskan bahwa dana tersebut akan digunakan untuk membangun sejumlah objek vital yang selama ini menjadi kebutuhan mendesak para nelayan.

“Proyek Kampung Nelayan ini berupa pembangunan sejumlah objek vital dalam menunjang peningkatan kesejahteraan para nelayan di antaranya; Tambatan perahu, Gudang beku, Pabrik es serta Area docking perahu,” jelasnya.

Kehadiran fasilitas ini diharapkan mampu memangkas biaya operasional nelayan, menjaga kualitas hasil tangkapan tetap segar, serta menyediakan tempat perawatan kapal yang memadai.

Terintegrasi dengan Pariwisata Pesisir

Yang membuat proyek ini berbeda adalah visi besarnya. Bupati JG tidak ingin Kampung Nelayan hanya menjadi tempat bongkar muat ikan. Ia memiliki konsep besar untuk memadukan pengelolaan perikanan dengan pengembangan sektor pariwisata.

“Nantinya, pengelolaan Kampung Nelayan ini akan terintegrasi dengan pengembangan pariwisata wilayah pesisir,” sebut Jack.

Langkah ini dinilai sebagai upaya tak kenal lelah untuk membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat pesisir, sekaligus memperkuat daya tarik wisata daerah. Bupati JG ingin desa-desa wisata yang sudah eksis seperti Budo, Darunu, Palaes, dan lainnya semakin berkembang.

“Pak Bupati ingin agar desa wisata yang sudah eksis saat ini boleh semakin dikembangkan sehingga wisatawan tidak hanya menikmati keindahan pesisir dan laut, tetapi juga dapat mengenal secara langsung kehidupan nelayan, proses penangkapan ikan, hingga pengolahan hasil laut,” ungkap Jack.

Konsep ini diyakini akan menjadikan masyarakat pesisir sebagai roda penggerak ekonomi. Wisatawan tidak hanya datang untuk berfoto, tetapi bisa belajar dan terlibat dalam ekosistem nelayan, menciptakan pengalaman wisata yang autentik dan edukatif.

Masyarakat Sebagai Pelaku Utama

Pendekatan yang diusung adalah berbasis komunitas. Bupati JG berharap masyarakat tidak hanya menjadi objek pembangunan, tetapi juga berperan sebagai pelaku utama dalam pengelolaan hasil laut serta kawasan wisata.

“Konsep ini pada akhirnya diharapkan mampu menciptakan kawasan pesisir yang produktif, tertata, dan berdaya saing, dengan tetap mempertahankan karakter kampung nelayan serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat lewat pengembangan UMKM, yang tentu juga berkolaborasi dengan Koperasi Merah Putih,” tutup Jack.

Dengan sentuhan modern namun tetap mempertahankan identitas lokal, proyek ini diharapkan menjadi model percontohan bagi daerah lain. Pembangunan fisik proyek ‘Kampung Nelayan’ sendiri sudah mulai bergulir sejak bulan September lalu dan ditargetkan tuntas akhir tahun ini. Masyarakat Minut kini menantikan babak baru kesejahteraan nelayan yang lebih sejahtera, mandiri, dan diperhitungkan di kancah pariwisata nasional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *