Scroll untuk baca artikel
Minahasa UtaraNews

Dari Likupang Barat untuk Minahasa Utara: LOSB Rayon 3 Dibuka, Setiap Anak Berhak atas Panggung Prestasi

225
×

Dari Likupang Barat untuk Minahasa Utara: LOSB Rayon 3 Dibuka, Setiap Anak Berhak atas Panggung Prestasi

Sebarkan artikel ini

Likupang, jendelasulut.com — Pembukaan Lomba Olahraga, Seni, dan Budaya (LOSB) MKKS Rayon 3 Kabupaten Minahasa Utara resmi dibuka pada Senin, 26 Oktober 2026, di Tanah Putih, Kecamatan Likupang Barat. Kegiatan yang berlangsung hingga 27 Oktober 2026 ini mengusung tema “Inovasi Global, Kearifan Lokal: Mempercepat Transformasi Pendidikan Unggul” , sebuah penegasan bahwa prestasi siswa tidak dibangun di ruang hampa budaya, melainkan tumbuh dari akar nilai yang kuat untuk menjawab tantangan zaman.

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Minahasa Utara, Dr. Evelyn Sisilia Luntungan, S.IP., M.A.P. , diwakili Kepala Bidang Pembinaan Sekolah Menengah Pertama (SMP) Patriciya Sumarauw, S.Pd M.M, membuka rangkaian kegiatan yang mempertemukan sekolah-sekolah SMP di wilayah Rayon 3. Dalam sambutan tertulisnya, Evelyn menegaskan bahwa pendidikan adalah urusan pemerintahan wajib yang berkaitan langsung dengan pelayanan dasar. Karena itu, LOSB tidak boleh dibaca sekadar sebagai rutinitas tahunan, melainkan sebagai bagian dari ikhtiar memastikan peserta didik tumbuh utuh—sehat jasmani, berkarakter, dan berdaya cipta.

“Masa depan Minahasa Utara berada di tangan anak-anak yang saat ini duduk di bangku SMP,” demikian kutipan arah kerja Evelyn yang relevan dengan semangat kegiatan ini. Melalui LOSB, siswa didorong untuk tidak hanya berkompetisi, tetapi juga belajar mengelola kemenangan dan kekalahan, bekerja dalam tim, serta menghargai proses.

Olahraga, Seni, dan Budaya sebagai Satu Tarikan Napas

Rangkaian lomba mencakup cabang olahraga dan seni yang lazim di jenjang SMP, seperti atletik, renang, bola voli, sepak bola, bulu tangkis, seni vocal solo, tari kreasi, pidato Bahasa Indonesia dan Inggris, Lomba Busana, Menyanyi, hingga musik tradisional. Dalam konteks Minahasa Utara, kehadiran cabang seni budaya bukan pelengkap. Kolintang, misalnya, bukan sekadar alat musik; ia adalah bahasa ibu yang menyimpan ingatan kolektif masyarakat Minahasa tentang kebersamaan dan keindahan yang dirajut dari banyak bilah.

Tema “Kearifan Lokal” menjadi jangkar yang menghubungkan seluruh pertandingan. Siswa diajak memahami bahwa inovasi global tidak menuntut mereka tercerabut dari akar. Justru sebaliknya: nilai-nilai lokal seperti Mapalus—budaya tolong-menolong dan gotong royong khas Minahasa—menjadi modal sosial untuk berkolaborasi, bukan sekadar berkompetisi. Dalam Mapalus, setiap orang punya peran; tidak ada yang bekerja sendirian. Semangat inilah yang coba dihadirkan di arena LOSB, agar sportivitas tidak berhenti di lapangan, tetapi meresap ke dalam cara siswa belajar dan hidup bersama.

Transformasi Pendidikan yang Berpijak pada Realitas Sekolah

Pemilihan Rayon 3 sebagai tuan rumah bukan tanpa makna. Wilayah ini mencakup sekolah-sekolah di lingkar Likupang Barat dan sekitarnya, termasuk SMP Kornelius Tanah Putih yang menjadi lokasi kegiatan. Menghadirkan even di wilayah pinggiran bukan sekadar soal rotasi, melainkan pesan bahwa transformasi pendidikan unggul tidak boleh hanya berputar di pusat kabupaten. Setiap anak, di mana pun sekolahnya, berhak atas panggung untuk menunjukkan kemampuan terbaiknya.

Kepala Bidang Pembinaan SMP dalam sambutannya mengingatkan bahwa LOSB adalah bagian dari pembinaan peserta didik yang melekat pada tugas dinas: mengoordinasikan pengembangan bakat, minat, dan prestasi siswa. Lomba ini, katanya, menjadi salah satu instrumen untuk memetakan potensi siswa yang dapat dibina lebih lanjut menuju kompetisi tingkat kabupaten, provinsi, hingga nasional.

Penutup

Selama dua hari, Tanah Putih akan menjadi ruang bertemunya energi muda dari sejumlah SMP di Rayon 3. Ada yang datang untuk mengejar medali, tetapi ada pula yang datang untuk belajar bahwa keberanian mencoba adalah kemenangan pertama. Di tengah pusaran perubahan global, LOSB MKKS Rayon 3 tahun 2026 mengingatkan satu hal sederhana namun mendasar: pendidikan unggul tidak dibangun dengan tergesa-gesa, melainkan dirawat dari akar budaya, disirami sportivitas, dan diarahkan pada masa depan yang lebih manusiawi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *