AIRMADIDI, jendelasulut com — Di tengah gejolak ekonomi nasional yang masih menyisakan tekanan kenaikan harga di berbagai sektor, Kabupaten Minahasa Utara justru mencatatkan kejutan positif. Di bawah komando Bupati Dr. Joune Ganda dan Wakil Bupati Kevin Lotulung, daerah berjuluk Bumi Nyiur Melambai ini berhasil mengukuhkan diri sebagai wilayah dengan inflasi tahunan terendah se-Provinsi Sulawesi Utara.
Berdasarkan rilis terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sulawesi Utara per Juli 2026, inflasi tahunan (year on year) Minahasa Utara hanya tercatat sebesar 1,00 persen. Capaian ini sekaligus menjadikan Minut sebagai satu-satunya kabupaten/kota di Sulawesi Utara yang berhasil menekan inflasi di bawah angka 1 persen—sebuah prestasi langka yang patut diperhitungkan di kawasan Indonesia Timur.
Pencapaian ini kontras dengan realitas yang terjadi di daerah tetangga dan ibu kota provinsi. Sebagai perbandingan, Kota Manado—yang menjadi pusat aktivitas ekonomi dan jasa—justru mencatat inflasi melonjak hingga 3,52 persen. Sementara itu, Kota Kotamobagu berada di angka 1,67 persen, dan Kabupaten Minahasa Selatan di posisi 1,08 persen. Dengan capaian tersebut, rata-rata inflasi Provinsi Sulawesi Utara secara keseluruhan masih tertahan di angka 2,53 persen, yang berarti Minahasa Utara berhasil tampil jauh di bawah rata-rata.
Stabilitas Harga dan Daya Beli Terjaga
Kepala Dinas Perdagangan dan Perekonomian Kabupaten Minahasa Utara, dalam keterangannya, menyebut bahwa rendahnya inflasi di Minut bukanlah kebetulan. Angka 1,00 persen ini mengindikasikan bahwa harga kebutuhan pokok masyarakat tetap stabil dan terkendali dengan baik. Di saat warga di kota-kota besar mengeluhkan mahalnya cabai, minyak goreng, dan biaya transportasi, masyarakat Minahasa Utara masih dapat bernapas lega karena daya beli mereka tidak tergerus secara signifikan.
“Ini adalah angin segar bagi masyarakat menengah ke bawah. Ketika inflasi rendah, biaya hidup tidak melonjak drastis, sehingga pendapatan riil masyarakat tetap terjaga. Kami melihat ini sebagai fondasi utama untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif,” ujar salah satu pejabat teknis di lingkungan Pemkab Minut yang memantau langsung data tersebut.
Sektor Pertanian Jadi Jurus Andalan
Apa rahasia keberhasilan Minahasa Utara? Jawabannya terletak pada kekuatan basis pertanian lokal. Berbeda dengan wilayah perkotaan yang sangat bergantung pada pasokan dari luar dan rentan terhadap gejolak harga logistik, Minahasa Utara memiliki kemandirian pangan yang patut diacungi jempol.
Ketersediaan komoditas pertanian yang melimpah—mulai dari sayur-mayur, palawija, hingga hasil perikanan darat—membantu menjaga kestabilan pasokan. Pemerintah daerah pun secara aktif memperkuat rantai pasok lokal melalui fasilitasi kelompok tani, akses pasar yang lebih pendek, serta program ketahanan pangan yang masif. Hal ini membuat harga bahan makanan tetap kompetitif dan tidak mengalami lonjakan spekulatif.
Kontras dengan Wilayah Perkotaan
Menarik untuk dicermati, tekanan inflasi di tingkat provinsi yang lebih tinggi (2,53 persen) ternyata paling banyak disumbang oleh kelompok pengeluaran seperti Pendidikan, Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya, serta Transportasi. Sektor-sektor ini memang lebih dominan memberikan beban biaya di kawasan perkotaan dengan mobilitas tinggi, seperti Manado. Namun, bagi Minahasa Utara yang masih didominasi oleh struktur ekonomi agraris, dampak dari kelompok komoditas tersebut tidak begitu besar, sehingga inflasi tetap landai.
Komitmen Berkelanjutan Menuju Ekonomi Inklusif
Bupati Dr. Joune Ganda bersama Wakil Bupati Kevin Lotulung menyatakan bahwa prestasi ini bukanlah tujuan akhir, melainkan pemantik semangat untuk melanjutkan transformasi ekonomi daerah ke arah yang lebih berkelanjutan.
“Kami berkomitmen untuk tidak cepat berpuas diri. Ke depan, kami akan terus menjaga stabilitas harga melalui operasi pasar rutin, memperkuat sinergi dengan Bulog untuk cadangan pangan, serta memastikan para petani mendapatkan dukungan sarana produksi yang murah dan tepat waktu,” tegas pernyataan resmi dari pasangan pemimpin daerah tersebut.
Lebih lanjut, Pemerintah Kabupaten Minahasa Utara menegaskan bahwa kebijakan fiskal dan moneter mikro di tingkat daerah akan terus diarahkan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Selain fokus pada ketahanan pangan, mereka juga berencana menggenjot sektor pariwisata dan UMKM berbasis digital, namun tetap dengan prinsip kehati-hatian agar lonjakan permintaan tidak memicu inflasi baru.
Dengan pencapaian ini, Minahasa Utara tidak hanya mencatatkan rekor, tetapi juga membuktikan bahwa sinergi antara kepemimpinan yang visioner dan potensi lokal yang dikelola dengan baik mampu menciptakan benteng ekonomi yang kokoh di tengah ketidakpastian global. Publik pun menaruh harapan besar agar stabilitas ini terus berlanjut dan dirasakan langsung oleh seluruh lapisan masyarakat di 10 kecamatan yang ada. ***