MINUT, JENDELASULUT.COM — Polemik yang sempat menghebohkan publik terkait dugaan praktik pemerasan yang dilakukan oleh Magdalena Malonda (MM), Kepala Sekolah SMP Negeri 1 Dimembe, terhadap para guru di lingkungan sekolahnya akhirnya menemukan titik terang. Isu tidak sedap yang beredar luas di sejumlah media beberapa waktu lalu tersebut kini telah diklarifikasi secara resmi oleh Inspektorat Kabupaten Minahasa Utara (Minut).
Menindaklanjuti ramainya pemberitaan yang dinilai meresahkan dan terkesan menyudutkan oknum kepala sekolah, Kepala Inspektorat Minut, Stephen Tuwaidan, bersama jajarannya bergerak cepat. Pada Jumat, 06 Maret 2026, Tim Inspektorat mengagendakan pemanggilan khusus terhadap Magdalena Malonda dan juga tiga orang guru yang disebut-sebut sebagai korban dalam pemberitaan tersebut. Proses pemeriksaan yang berlangsung kurang lebih satu jam itu digelar di Kantor Dinas Pendidikan Minut, dengan suasana yang dikonfirmasi berlangsung kondusif.
✅ Hasil Pemeriksaan: Tidak Ada Unsur Pemerasan
Usai menjalani pemeriksaan, Kepala Inspektorat Minut, Stephen Tuwaidan, memberikan klarifikasi resmi kepada wartawan. Dengan tegas ia membantah tuduhan pemerasan yang sempat merebak.
“Berdasarkan keterangan yang kami peroleh langsung dari para pihak, tidak ada praktik ‘peras’ dalam persoalan ini. Yang terjadi adalah pemberian yang dilakukan secara sukarela dan penuh keikhlasan oleh para guru yang dianggap sebagai korban dalam pemberitaan sebelumnya,” ujar Tuwaidan.
Ia menekankan bahwa pengakuan tersebut disampaikan langsung oleh ketiga guru di hadapan Tim Inspektorat tanpa adanya tekanan atau intervensi dari pihak manapun. Hal ini menjadi bukti otentik bahwa narasi pemerasan yang dibangun di beberapa media tidak sesuai dengan fakta di lapangan.
✅ Bantuan Administrasi Sertifikasi, Bukan Permintaan Imbalan
Lebih lanjut, Tuwaidan memaparkan kronologi sebenarnya yang memicu kesalahpahaman ini. Ternyata, keterlibatan Kepsek MM bermula dari niat mulia membantu para guru yang sedang berada dalam kondisi kurang sehat.
“Persoalannya begini, Kepsek MM ternyata hanya sekedar membantu pengurusan administrasi sertifikasi untuk ketiga guru ini. Mereka sedang dalam keadaan sakit, sehingga khawatir hak mereka tidak terpenuhi. Dengan jiwa sosial yang tinggi, Kepsek MM membantu melengkapi administrasi yang diperlukan agar dana sertifikasi tetap bisa mereka cairkan. Ini terjadi pada bulan November 2025 lalu,” terang Tuwaidan.
Ia menjelaskan bahwa tidak ada iming-iming atau permintaan imbalan atas bantuan yang diberikan. Bantuan tersebut murni didasari oleh kepedulian seorang atasan terhadap kondisi anak buahnya yang sedang sakit, agar hak administratif mereka tidak terhambat.
✅ Pengakuan Kepala Sekolah: Pemberian Sempat Ditolak
Magdalena Malonda, yang juga hadir dan dimintai keterangan, menuturkan rasa sesalnya atas pemberitaan yang menggiring opini negatif dan menyudutkan dirinya. Ia membenarkan seluruh penjelasan yang disampaikan oleh Inspektorat.
“Yang benar terjadi seperti apa yang telah disampaikan oleh Inspektorat. Saya sangat menyesal dengan pemberitaan di beberapa media yang terkesan memojokkan saya. Padahal, niat saya hanya membantu,” tutur MM dengan nada tertunduk.
Menariknya, MM mengungkapkan bahwa dirinya sempat menolak pemberian dari ketiga guru tersebut. Namun, para guru bersikeras agar pemberian mereka diterima sebagai bentuk ungkapan terima kasih atas bantuan yang telah diberikan.
“Mereka bersikeras, dan saya yakin mereka memberikannya dengan ikhlas tanpa ada unsur keterpaksaan atau keharusan dari saya. Dana sertifikasi juga cair langsung ke rekening masing-masing guru, tidak pernah melalui saya. Jadi tidak ada celah sedikitpun bagi saya untuk meminta ‘jatah’,” tegasnya.
Dengan klarifikasi ini, Inspektorat Minut berharap publik tidak lagi terpancing dengan isu-isu negatif yang tidak berdasar. Pihaknya menganggap persoalan ini telah selesai dan menghimbau semua pihak untuk lebih bijak dalam menyikapi informasi, serta mengapresiasi niat baik yang justru disalahartikan sebagai tindakan negatif.