Scroll untuk baca artikel
Minahasa UtaraNews

Komitmen Tegas Bupati Minut Lestarikan Bahasa Tonsea: Dari THR Pribadi Hingga Buku Panduan Sekolah

575
×

Komitmen Tegas Bupati Minut Lestarikan Bahasa Tonsea: Dari THR Pribadi Hingga Buku Panduan Sekolah

Sebarkan artikel ini

MINUT, JENDELASULUT.COM — Di tengah gempuran arus modernisasi yang kerap mengikis identitas budaya lokal, Pemerintah Kabupaten Minahasa Utara (Minut) kembali menunjukkan komitmen nyata dalam menjaga akar tradisi leluhur. Bupati Joune Ganda secara langsung bertatap muka dengan pengurus Lembaga Adat Paimpuluan Nuwu Ne Tonsea (PNNT) di Lantai III Kantor Bupati, Selasa (07/04/2026).

Pertemuan yang berlangsung hangat itu bukan sekadar silaturahmi biasa, melainkan momentum krusial bagi masa depan sub-etnis Tonsea. Pasalnya, PNNT melaporkan kabar menggembirakan: penyusunan Kamus Bahasa Tonsea telah memasuki tahapan rangkuman akhir. Kehadiran kamus ini diharapkan menjadi fondasi utama bagi upaya revitalisasi bahasa yang nyaris terpinggirkan.

Dalam sambutannya, Bupati Joune Ganda menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada para tokoh adat, guru tutor, dan seluruh elemen yang tak kenal lelah mempertahankan eksistensi budaya Tonsea.

“Sebuah peradaban tidak akan ada artinya apabila akar budayanya hilang. Kita bisa melihat Jakarta yang sangat modern, namun tetap menjaga budaya Betawi. Kita pun tidak ingin budaya Tonsea hilang ditelan zaman,” tegas Joune Ganda di hadapan puluhan anggota PNNT.

Ia mengibaratkan bahasa sebagai “rumah” bagi peradaban. Jika bahasanya punah, maka perlahan identitas suatu suku akan luluh. Karena itu, ia bertekad menjadikan pelestarian budaya sebagai salah satu prioritas utama kepemimpinannya.

✅ Dukungan Konkret di Tengah Keterbatasan

Ketua PNNT Minut, Ferdinand, mengakui bahwa perhatian serius dari Bupati Joune Ganda selama ini menjadi faktor kunci kelancaran berbagai program lembaga adat. Namun, ia juga membuka suara mengenai tantangan finansial yang dihadapi, terutama akibat kebijakan pengurangan dana transfer dari Pemerintah Pusat.

Menanggapi hal itu, Bupati Joune Ganda tidak hanya memberi janji, tetapi langsung memaparkan langkah-langkah konkret:

1. Anggaran Operasional 10 Bulan – Pemerintah daerah telah mengalokasikan anggaran khusus untuk operasional PNNT selama tahun 2026. Dana tersebut akan segera dikoordinasikan dengan Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) agar dapat segera direalisasikan.
2. Insentif THR dari Kantong Pribadi – Di tengah kondisi anggaran daerah yang terbatas, Bupati menunjukkan sikap luar biasa dengan mengupayakan Tunjangan Hari Raya (THR) sebesar Rp1.000.000 per orang untuk anggota PNNT. “Ini bentuk kepedulian pribadi saya. Bukan dari APBD,” ujarnya, disambut tepuk tangan haru para tokoh adat.
3. Buku Panduan Bahasa Tonsea untuk Sekolah – Pemkab Minut berencana memfasilitasi pencetakan dan distribusi buku panduan bahasa Tonsea secara masif. Buku ini akan menjadi pegangan utama para tutor yang mengajar di sekolah-sekolah, sehingga regenerasi penutur bahasa Tonsea dapat berlangsung lebih sistematis.

✅ Pesan Geopolitik: Jangan Abai Krisis Global

Di sela-sela pembahasan budaya, Bupati Joune Ganda juga menyelipkan pengingat serius terkait kondisi geopolitik dunia yang tengah memanas. Konflik di Timur Tengah yang berkepanjangan, menurutnya, berpotensi menimbulkan guncangan ekonomi global, termasuk krisis pangan.

“Maka dari itu, saya mengajak seluruh keluarga besar PNNT dan masyarakat Minut pada umumnya untuk mulai memperkuat ketahanan pangan secara mandiri. Tanamlah bahan-bahan pokok di pekarangan rumah. Jangan sampai kita hanya menjadi penonton saat krisis datang,” pesannya.

Ajakan ini disambut positif oleh PNNT. Mereka berkomitmen untuk mengintegrasikan program ketahanan pangan ke dalam kegiatan adat, sekaligus menjadi contoh bagi warga lainnya.

✅ Sinergi yang Menghidupkan Harapan

Pertemuan yang berlangsung sekitar dua jam itu ditutup dengan suasana penuh kebersamaan. Bupati dan para tetua adat saling bertukar cenderamata sebagai simbol komitmen bersama.

Ferdinand, Ketua PNNT, menyebut bahwa pertemuan ini bukan hanya menghidupkan kembali semangat melestarikan bahasa Tonsea, tetapi juga membuka mata bahwa budaya dan ketahanan hidup modern bisa berjalan beriringan.

“Dengan adanya kamus, buku panduan, serta dukungan penuh dari Pak Bupati, kami optimis generasi muda Tonsea tidak akan kehilangan jati dirinya. Bahasa kami akan tetap hidup, dan tradisi kami akan terus dikenang,” tutupnya penuh haru.

Kisah Minahasa Utara ini menjadi bukti bahwa di tengah keterbatasan, kepemimpinan yang berakar pada nilai-nilai lokal mampu melahirkan kebijakan yang tidak hanya menyentuh, tetapi juga membumi. Bahasa Tonsea pun masih punya harapan untuk terus bergema di tanah leluhurnya. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *