Scroll untuk baca artikel
Minahasa UtaraNews

Krisis Ekologi di Likupang Timur: Ratusan Petani Desa Maen Gugat PT Meares Soputan Mining atas Pencemaran Sungai Pangisan yang Lumpuhkan Perekonomian

230
×

Krisis Ekologi di Likupang Timur: Ratusan Petani Desa Maen Gugat PT Meares Soputan Mining atas Pencemaran Sungai Pangisan yang Lumpuhkan Perekonomian

Sebarkan artikel ini

Likupang, jendelasulut.com — Rangkaian panjang protes warga Desa Maen, Kecamatan Likupang Timur, Kabupaten Minahasa Utara, terhadap dugaan pencemaran lingkungan yang dikaitkan dengan aktivitas tambang emas PT Meares Soputan Mining (MSM) dan Tambang Tondano Nusajaya (TTN), kini memasuki babak baru yang penuh harap sekaligus waspada. Pada Senin, 27 Juli 2026, puluhan warga yang didampingi kuasa hukum mereka, RH Hady LC, SH, MH, mengguncang gerbang kantor PT MSM. Kedatangan mereka bukan sekadar aksi seremonial, melainkan langkah terukur untuk menyampaikan tuntutan resmi dan mencari titik temu atas persoalan yang telah membelenggu kehidupan mereka selama bertahun-tahun.

Suasana tegang namun terukur mewarnai pertemuan antara warga dan jajaran manajemen perusahaan. Di meja perundingan, kuasa hukum warga membeberkan sederet tuntutan konkret yang intinya berporos pada dua hal: pertama, kejelasan ganti rugi atas puluhan hektare lahan sawah yang tercemar; kedua, realisasi janji bantuan korporasi yang telah lama menguap begitu saja, meninggalkan rasa pahit di tengah masyarakat.

Konflik ini bukanlah isu baru yang tiba-tiba muncul; ia adalah saga panjang yang tak kunjung usai. Warga Desa Maen, bersama saudara-saudara mereka dari Desa Likupang 1 dan Likupang Kampung Ambon, telah berulang kali melantunkan keluhan yang sama. Tudingan mereka mengarah pada limbah aktivitas tambang yang diduga mencemari aliran Sungai Pangisan—sebuah aliran yang dulunya menjadi denyut nadi kehidupan, tetapi kini justru membawa petaka. Akibatnya, sejak tahun 2016 silam, puluhan hektare sawah produktif perlahan kehilangan fungsinya dan tak mampu lagi digarap.

Dengan nada prihatin yang menyayat hati, Roy Salmon Pitoy, SH, pemilik lahan sekaligus suara bagi puluhan kepala keluarga di wilayah itu, mengungkapkan duka mendalam atas surutnya kejayaan pertanian setempat. Hamparan sawah subur seluas sekitar 49 hektare—jika dibayangkan, luasnya hampir setara dengan 70 lapangan sepak bola—kini kehilangan “nyawa” produktivitasnya. Tanah yang dulu gembur dan ramah terhadap benih, kini berubah menjadi lahan kritis yang tak lagi mampu menopang hidup.

Padahal, di masa kejayaannya, hamparan itu bukan sekadar tanah; ia adalah mesin penghidupan yang memutar roda ekonomi desa. Dulu, dalam setahun, siklus tanam padi berlangsung dua kali dengan ritme alam yang tertib. Setiap musim penghujan dan kemarau berganti, sawah-sawah tersebut selalu menghadirkan panorama hijau yang menyejukkan mata, yang pada puncak panen berubah menjadi lautan emas bergelombang, dipenuhi bulir-bulir padi bernas yang sarat akan hasil. Kelimpahan kala itu begitu nyata: lumbung-lumbung desa menggunung, pendapatan petani cukup untuk membiayai sekolah anak-anak hingga ke jenjang tinggi, serta memenuhi kebutuhan pokok rumah tangga tanpa harus terlilit utang.

Namun, keindahan itu sirna sudah. Selama sembilan tahun terakhir—hampir satu dekade yang terasa seabad bagi para petani—lahan pertanian yang dulunya menjadi tumpuan harapan itu kini terbengkalai, tertimbun masalah serius yang tak kunjung terurai. Kehilangan mata pencaharian utama, warga yang dulu andal dalam mengolah sawah harus rela mengganti cangkul dan sabit dengan timbangan dan keringat jalanan. Mereka terpaksa beradaptasi dengan profesi baru: menjadi pedagang kecil-kecilan yang berjualan gorengan di pinggir jalan, menggendong sayur keliling dari rumah ke rumah, atau menjajakan sembako dengan modal pas-pasan. Sebagian lainnya bertahan sebagai buruh serabutan, mengandalkan otot untuk proyek bangunan atau memikul beban barang di pasar tradisional, dengan penghasilan harian yang kerap kali tak menentu dan tak pernah pasti.

Lebih dari sekadar kehilangan pendapatan, selama sembilan tahun penuh pergulatan itu, warga perlahan kehilangan identitas kebanggaan mereka sebagai petani. Generasi kedua di desa itu tumbuh tanpa pernah merasakan bagaimana dinginnya lumpur sawah di sela jari kaki atau bagaimana harumnya gabah kering di halaman rumah. Tradisi menanam dan menuai yang diwariskan turun-temurun kini terancam putus, sementara di sisi lain, beban ekonomi semakin menekan para orang tua yang terus bertahan dalam pusaran ketidakpastian. Derita mereka bukan hanya materi, tetapi juga luka psikis yang mengikis martabat dan masa depan.

Penulis: Rukminto

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *