NASIONAL, JENDELASULUT.COM — Pada 6 Februari 2026, IDN Times bersama Forum Jurnalis Perempuan Indonesia (FJPI) dan Yayasan Amai Setia menyelenggarakan diskusi bertajuk “3 Wajah Roehana Koeddoes: Pahlawan Nasional, Jurnalis Perempuan Pertama di Indonesia.” Acara ini tidak hanya mengulas sejarah, tetapi juga meluncurkan lomba jurnalistik yang mengajak peserta meneladani dan merefleksikan kiprah Roehana Koeddoes. Tulisan ini hadir sebagai narasi orisinal yang merangkum sosok Roehana Koeddoes berdasarkan bahan dari diskusi tersebut serta sumber-sumber sekunder terpercaya.
SIAPAKAH ROEHANA KOEDDOES?
Roehana Koeddoes (dibaca Ruhana Kudus) lahir di Koto Gadang, Sumatera Barat, pada 20 Desember 1884. Ia adalah kakak tiri dari Sutan Syahrir, perdana menteri pertama Indonesia. Roehana hidup di era kolonial Belanda, di mana akses pendidikan bagi perempuan sangat terbatas. Namun, berkat ketekunan belajar secara otodidak dan dukungan keluarga, ia tumbuh menjadi perempuan yang melek huruf dan kritis terhadap kondisi sosial. Pada 1908, ia menikah dengan Abdoel Koeddoes, seorang notaris, dan sejak itu dikenal sebagai Roehana Koeddoes.
TIGA WAJAH ROEHANA KOEDDOES
Diskusi “3 Wajah Roehana Koeddoes” mengurai multidimensi perjuangannya. Tiga wajah tersebut adalah:
1. WAJAH PERTAMA: JURNALIS PEREMPUAN PELOPOR
Roehana Koeddoes diakui sebagai wartawati pertama Indonesia. Pada 1911, ia mulai menulis di surat kabar Poetri Hindia. Kemudian, pada 1912, ia mendirikan dan memimpin redaksi surat kabar Soenting Melajoe – media khusus perempuan pertama di Indonesia. Melalui Soenting Melajoe, Roehana menyuarakan isu-isu perempuan, pendidikan, dan kebangsaan. Tulisannya tajam, mengkritik kebijakan kolonial dan mendorong perempuan untuk berani bersuara. Kiprahnya ini membuka jalan bagi keberadaan pers perempuan di Indonesia.
2. WAJAH KEDUA: PENDIDIK DAN PEMBERDAYA EKONOMI
Roehana menyadari bahwa pendidikan adalah kunci kemajuan perempuan. Ia tidak hanya mengajar baca-tulis, tetapi juga mendirikan sekolah kerajinan (school voor handenwerken) di Koto Gadang. Sekolah ini mengajarkan keterampilan praktis seperti menyulam, menenun, dan menganyam, sehingga perempuan memiliki bekal untuk mandiri secara ekonomi. Roehana percaya bahwa kemandirian ekonomi adalah fondasi bagi emansipasi perempuan.
3. WAJAH KETIGA: PAHLAWAN NASIONAL DAN AKTIVIS PEREMPUAN
Perjuangan Roehana melampaui dunia jurnalistik dan pendidikan. Ia aktif dalam organisasi perempuan, seperti Perikatan Perempuan Minangkabau, dan terus mengampanyekan kesetaraan gender. Atas kontribusi besarnya, pemerintah Indonesia menganugerahi gelar Pahlawan Nasional kepadanya pada 8 November 2021. Gelar ini menegaskan posisinya sebagai pejuang yang tidak hanya memperjuangkan hak perempuan, tetapi juga membangun fondasi kemajuan bangsa.
DISKUSI “3 WAJAH ROEHANA KOEDDOES” SEBAGAI PENGINGAT DAN PENGGERAK
Diskusi yang digelar IDN Times dan FJPI ini menghadirkan sejumlah tokoh pers, pemerintah, dan aktivis. Pemimpin Redaksi IDN Times, Uni Lubis, memandu acara yang menekankan bahwa semangat Roehana harus tetap hidup di tengah tantangan jurnalisme modern. Diskusi juga menggarisbawahi relevansi Roehana sebagai spirit perjuangan untuk melindungi jurnalis perempuan yang masih rentan hingga hari ini. Dari diskusi inilah lomba jurnalistik “3 Wajah Roehana Koeddoes” diluncurkan, mengajak peserta untuk membuat karya orisinal yang menginspirasi.
RELEVANSI ROEHANA KOEDDOES DALAM JURNALISME KONTEMPORER
Di era digital, nilai-nilai yang diperjuangkan Roehana—integritas, keberanian bersuara, dan komitmen pada pemberdayaan—tetap aktual. Jurnalis perempuan kini dapat melanjutkan estafet perjuangannya dengan:
· Menjaga independensi dan etika pers.
· Memberi ruang bagi suara-suara yang termarjinalkan.
· Menggunakan platform media untuk advokasi pendidikan dan kesetaraan.
PENUTUP
Roehana Koeddoes adalah bukti bahwa satu sosok bisa memiliki banyak wajah: pelopor jurnalistik, pendidik yang visioner, dan pahlawan nasional yang gigih. Melalui lomba jurnalistik “3 Wajah Roehana Koeddoes”, semangatnya dihidupkan kembali untuk menginspirasi generasi sekarang. Sebagai peserta, kita diajak tidak hanya mengenang sejarah, tetapi juga meneruskan perjuangannya melalui karya jurnalistik yang orisinal, kritis, dan memberdayakan.
—
Sumber Referensi (Digunakan sebagai Bahan Narasi):
1. Historia.id – “Ruhana Kudus Bukan Sekadar Wartawan Perempuan Pertama” (2026).
2. IDN Times – “3 Wajah Roehana Koeddoes: Jurnalis, Pendidik, dan Penjaga Nurani Pers Perempuan” (2026).
3. Wikipedia – “Roehana Koeddoes” (diakses Februari 2026).
4. Sulutreview.com – “Diskusi 3 Wajah Roehana Koeddoes, FJPI dan IDN Times Angkat Peran Perempuan Pers” (2026).
5. Kilasjatim.com – “FJPI: Roehana Koeddoes Jadi Spirit Perjuangan Lindungi Jurnalis Perempuan” (2026).
Narasi ini disusun sebagai bahan inspirasi untuk Lomba Karya Jurnalistik “3 Wajah Roehana Koeddoes”. Peserta disarankan untuk menggali lebih dalam dari sumber-sumber primer dan sekunder yang tersedia, serta menyertakan sitasi yang jelas dalam karyanya.