Minahasa Utara – Di tengah gebyar seremoni nasional peresmian 1.061 Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP), nama Kabupaten Minahasa Utara (MINUT) mendadak menjadi sorotan. Pasalnya, di bawah arahan Bupati Dr. Joune Ganda, daerah yang dijuluki Tanah Tonsea ini justru tampil sebagai yang terdepan dan teragresif dalam mengimplementasikan program strategis Presiden Prabowo Subianto tersebut.
Meski Bupati Joune Ganda berhalangan hadir dan diwakili oleh Sekretaris Daerah Novly Wowiling, gaung komitmennya terasa sangat kuat. Peresmian yang dipusatkan di Koperasi Desa Merah Putih Desa Kauditan II, Sabtu (16/5/2026), menjadi bukti nyata bahwa Minahasa Utara tidak main-main dalam mengakselerasi penguatan ekonomi desa.
Kejar Target, Minahasa Utara Terbanyak se-Sulut
Dalam laporannya, Sekda Novly Wowiling membeberkan data yang cukup mengejutkan. Di tahap pertama ini, dari total 1.061 koperasi yang diresmikan secara hybrid se-Indonesia, Minahasa Utara menyumbang 31 titik Koperasi Merah Putih. Angka ini diklaim sebagai yang terbanyak di Provinsi Sulawesi Utara.
“Untuk tahap pertama, Minahasa Utara kemungkinan menjadi daerah terbanyak di Sulut dalam pengembangan Koperasi Merah Putih. Ini adalah instruksi langsung dan perhatian serius Bapak Bupati Joune Ganda agar kita tidak sekadar ikut, tapi menjadi contoh,” ujar Novly.
Dari 31 titik tersebut, 28 di antaranya sudah dalam tahap perampungan, sementara satu koperasi di Kauditan II resmi menjadi yang pertama beroperasi. Bupati Joune Ganda, melalui jajarannya, tidak ingin program ini berhenti pada seremoni. Ia telah menyiapkan peta jalan ekspansi tahap kedua dengan target ambisius: 70 titik koperasi baru.
Visi Joune Ganda: Koperasi Bukan Sekadar Plang, Tapi Mesin Ekonomi Baru
Perhatian publik kini tertuju pada gaya kepemimpinan Joune Ganda yang senyap namun taktis. Di saat daerah lain masih berfokus pada peresmian administratif, Bupati Joune justru telah memikirkan integrasi program Koperasi Merah Putih dengan program nasional lainnya.
Novly mengungkapkan bahwa Bupati Joune Ganda melihat potensi besar koperasi ini untuk terkoneksi langsung dengan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Artinya, koperasi desa tidak hanya menjadi tempat simpan pinjam atau jualan sembako, melainkan akan disiapkan sebagai simpul distribusi pangan lokal.
“Kami tidak ingin koperasi ini jadi ‘macan kertas’. Arahan Pak Bupati, koperasi harus bisa menjadi penyuplai bahan pangan untuk program MBG. Dengan begitu, ekonomi petani dan UMKM lokal berputar di desa sendiri, sekaligus mendukung program nasional,” tegas Novly menerjemahkan visi Bupati Joune Ganda.
Dari Seremoni Menuju Gerakan Ekonomi Akar Rumput
Gubernur Sulawesi Utara, Yulius Selvanus, dalam sambutannya menekankan agar koperasi tidak berhenti pada seremoni. Pesan ini tampaknya telah lebih dulu direspon oleh Bupati Joune Ganda dengan aksi konkret.
Strategi memperbanyak titik koperasi di Minahasa Utara dianggap sebagai langkah berani. Dengan mengejar 70 titik di tahap kedua, Joune Ganda ingin memastikan bahwa kehadiran Koperasi Merah Putih tidak sekadar memenuhi target kuantitas, melainkan benar-benar merata menyentuh hingga desa-desa terpencil di Minahasa Utara.
Langkah progresif Pemkab Minahasa Utara di bawah komando Dr. Joune Ganda ini kini menjadi perhatian publik Sulawesi Utara. Di tengah arahan Presiden Prabowo yang menempatkan koperasi sebagai instrumen utama penggerak ekonomi rakyat, Minahasa Utara muncul sebagai role model bagaimana sebuah daerah menerjemahkan visi pusat menjadi gerakan ekonomi akar rumput yang masif. (*)