Yogyakarta, jendelasulut.com — Pemerintah Kabupaten Minahasa Utara (Minut) kembali menunjukkan taringnya di kancah diplomasi global. Pada Selasa, 11 Agustus 2026, Sefferson Sumampouw, Kepala Bagian Pemerintahan Sekretariat Daerah Kabupaten Minahasa Utara, didampingi oleh Lidya Katuuk dan Royke Rondonuwu dari Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Minahasa Utara, secara resmi mewakili Bupati Dr. Joune J.E. Ganda dalam China–Indonesia Local Government Cooperation Dialogue 2026.
Bertempat di Ruang Bima, Kompleks Balai Kota Yogyakarta, forum bergengsi yang mengusung tema “Set Sail On A New Voyage: Local Cooperation for Building a China–Indonesia Community with a Shared Future” ini merupakan hasil kolaborasi antara Pemerintah Kota Yogyakarta, United Cities and Local Governments Asia-Pacific (UCLG ASPAC), serta Chinese People’s Association for Friendship with Foreign Countries (CPAFFC).
Forum ini menjadi magnet perhatian publik karena mempertemukan hampir 200 perwakilan dari pemerintah daerah, dunia usaha, universitas, dan organisasi persahabatan kedua negara. Dari sisi Tiongkok, hadir 70 delegasi yang terdiri dari perwakilan 27 pemerintah daerah dan 18 perusahaan dari 12 wilayah setingkat provinsi. Sementara dari Indonesia, turut hadir para pemimpin daerah dari berbagai wilayah, termasuk Wakil Wali Kota Yogyakarta Wawan Harmawan, Wakil Wali Kota Banda Aceh, Bupati Klaten, Wali Kota Kendari, Wali Kota Jambi, Wali Kota Probolinggo, Wakil Wali Kota Pangkalpinang, dan Sekretaris Daerah Kabupaten Malang.
Kehadiran Kepala Bagian Pemerintahan Setdakab Minahasa Utara dalam forum ini menjadi bagian dari strategi daerah untuk memperkuat jejaring kerja sama antara pemerintah daerah dengan dunia usaha dan mitra dari Tiongkok.
Rekam Jejak Diplomasi Internasional Minahasa Utara
Dalam kesempatan itu, Sefferson Sumampouw,
Kepala Bagian Pemerintahan Setdakab Minahasa Utara memaparkan rekam jejak gemilang Minahasa Utara di kancah kerja sama internasional yang patut menjadi perhatian publik. Bupati Joune Ganda sebelumnya telah hadir dalam UCLG ASPAC Congress di Yiwu, Tiongkok, pada November 2023. Kehadiran tersebut menghasilkan momen bersejarah ketika Minahasa Utara terpilih menjadi tuan rumah First Session of the UCLG ASPAC Executive Bureau Meeting yang digelar di Likupang pada Juni 2024.
Puncak pengakuan internasional datang ketika Kabupaten Minahasa Utara berhasil menembus posisi lima besar finalis UCLG Peace Prize 2026 dalam UCLG World Congress di Tangier, Maroko. Minahasa Utara menjadi satu-satunya perwakilan dari Indonesia dan kawasan Asia Pasifik di antara para finalis yang juga berasal dari Ekuador, Sudan Selatan, Brasil, dan Kenya. Dalam ajang bergengsi tersebut, Minahasa Utara mengangkat topik pencegahan konflik antaragama melalui tata kelola pemerintahan yang inklusif—sebuah praktik nyata yang telah lama terjaga di Bumi Nyiur Melambai.
Bagi Pemerintah Kabupaten Minahasa Utara, pengakuan ini menjadi bagian penting dari citra daerah sebagai wilayah yang damai, harmonis, aman, dan kondusif bagi masyarakat maupun investasi.
Minahasa Utara: The Indonesian Gateway to the Asia-Pacific
Dengan posisi strategis di Sulawesi Utara, konektivitas kawasan Manado–Minahasa Utara–Bitung, serta akses penerbangan langsung dari Bandara Sam Ratulangi Manado ke sejumlah kota di Tiongkok, Minahasa Utara terus mendorong dirinya sebagai “The Indonesian Gateway to the Asia-Pacific”.
Dalam forum tersebut, tim Minahasa Utara juga memperkenalkan berbagai produk unggulan daerah, mulai dari pala, cengkeh, kelapa kering, kelapa dan produk turunannya—komoditas yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan lebih lanjut melalui hilirisasi dan industri bernilai tambah. Bagi Pemkab Minahasa Utara, produk-produk tersebut bukan sekadar komoditas, melainkan peluang untuk membangun perdagangan, investasi, transfer teknologi, hilirisasi, dan membuka akses pasar yang lebih luas.
Presiden CPAFFC Yang Wanming dalam pidatonya menegaskan bahwa kerja sama antarpemerintah daerah memiliki peran vital dalam memperkuat persahabatan kedua negara. “Vitalitas itu berada pada kerja sama antarpemerintah lokal. Kami sangat bersedia menjadi jembatan untuk memperdalam kerja sama dan saling memahami,” ujarnya. Forum ini juga mencatat kesepakatan penting, di antaranya tawaran beasiswa dari pihak Tiongkok bagi 50 mahasiswa Indonesia setiap tahunnya.
Dari Persahabatan Menuju Kemitraan, dari Kemitraan Menuju Investasi
Melalui partisipasi aktif dalam forum ini, Minahasa Utara menegaskan komitmennya untuk bergerak dari persahabatan menuju kemitraan, dari kemitraan menuju investasi, dan dari investasi menuju kesejahteraan bersama. “North Minahasa is safe to invest, strategic to connect, and ready to partner” menjadi pesan tegas yang disampaikan kepada para delegasi dan investor asal Tiongkok.
Forum yang digelar di Yogyakarta ini menjadi momentum strategis bagi daerah-daerah di Indonesia untuk membangun koneksi langsung dengan pemerintah daerah serta korporasi dari Tiongkok. Para peserta sepakat bahwa kerja sama daerah adalah tulang punggung hubungan bilateral kedua negara, dan berkomitmen untuk terus menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat di tingkat lokal.
Dengan segala pencapaian dan potensi yang dimiliki, Kabupaten Minahasa Utara semakin kokoh melangkah di panggung internasional—bukan sekadar sebagai daerah yang siap menerima investasi, tetapi sebagai mitra strategis yang membawa pesan perdamaian, kerukunan, dan kemakmuran bersama.***